Salah Kaprah #sampah

Gue ini bukan siapa-siapa, cuma sampah ringan yang diterbangkan angin bagi dia, iya dia, siapa aja deh. Diterbangin angin sampai ke Amerika, terbang ke Kanada, bahkan kemaren baru balik dari india. Kadang jadi sampah bagi seseorang itu ada enaknya, bisa jalan-jalan keliling dunia. Tapi itu tergantung arah angin.
Berhubung ini bulan anginnya lagi keceng ke Indonesia, gue balik lagi kesini, salah satu kota pelajar di pulau Sumatera.
Gue dibilang sampah secara langsung sih gak pernah, tapi lebih sering diperlakukan seperti itu.
Yang lebih nyakitin perasaan itu adalah diperlakukan seperti sampah sama orang-orang yang selama ini gue kasih label grup, Keluarga. Gila gak tuh.
Gue sih santai aja, gak peduli lagi mereka bicara apa yang menyudutkan gue. Gue cuma mau buktikan ke mereka kalau sampah mereka ini bisa didaur ulang dan menjadi sesuatu yang bernilai lebih dari emas permata yang mereka simpen dibawah kasur itu. *ehh #salahkaprah

Advertisements

Salah Kaprah #Jerawat

Kata orang, biar muka gak jerawatan, cuci lah muka sebelum dan bangun tidur, itu minimal, catet.
Berhubung kulit kepala gue kadang ada benjolan kecil seperti jerawat trus punggung gue juga kadang berjerawat dan bahkan telapak kaki gue pernah ada bintik-bintik merah, gue jadi punya kebiasaan baru akhir-akhir ini. Mencuci kepala, mencuci badan sampai telapak kaki sebelum tidur, alias mandi. Biar maksimal aja gitu, niatnya sih supaya jerawat-jerawat gue jadi berkurang.
Tak terkecuali bila rentang waktu gue tidur dan terbangun itu hanya berkisar 60 menit.
Jadi ceritanya gue mandi plus keramas lalu tidur, bangun-bangun masuk kamar mandi lagi buat mandi plus keramas lagi. Padahal itu rambut belum kering malah harus rela diguyur lagi.
Jangan-jangan yang ada bukannya jerawat gue ilang atau setidaknya berkurang, ini malah helaian rambut gue bentol-bentol kayak jerawat trus kena demam tinggi, pucet, kurusan dan berujung kematian, alias rontok. #salahkaprah

Via Twitter

Kaget tergirang-girang. Ya itu yang aku rasakan ketika terakhir kali memeriksa Hp menjelang tidur. Aku sengaja membuka salah satu akun sosial media yang aku punya untuk mengecek notifikasinya. Tak disangka deretan Mention baru aku dapati, bejibun. Salah satu yang bikin aku tambah girang adalah, Mention dari salah satu Akun Resmi sebuah acara Talkshow di Net.TV. Aku dinyatakan sebagai salah satu pemenang kuis malam yang sebelumnya aku tonton. Aku memang iseng-iseng ikutan dalam kuis ketika acara itu berlangsung, caranya mengirimkan ocehan via Twitter dengan Tema yang telah ditentukan. Aku mengirimkan satu ocehan yang berisi gombalan untuk salah satu bintang tamu disana @rizashahab. Ternyata gombalanku menarik perhatian admin ITnya, aku menjadi salah satu dari dua orang yang beruntung malam itu.
Yang buat aku senang bukan hadiah yang akan aku dapati. Tapi berupa tambahan follower twitterku yang buat aku senang. Norak memang ya, hihii mau gimana lagi, aku pemula di sosmed itu. Apalagi sejak aku bergabung pada tahun 2009 lalu, followerku tak lebih dari 100. Tapi sejak aku diMention oleh akun Talkshow itu, followerku bertambah 100, hehe. Lumayan, buat nambah gengsi. Soalnya yang aku tahu, banyaknya jumlah angka pada kotak follower di profil Twitter seseorang, mengisyaratkan betapa ngehitsnya orang tersebut (lebay). 😛 aku juga tak mau kalah, aku pengen punya banyak follower juga dong. Tapi yang aku rasakan itu, mencari follower adalah sesuatu yang ngeri-ngeri susah. Yang mengartikan aku masih belum ngehits dimata orang banyak 😀 haha, lah iya lah yaa. Twitter itu bagiku hanya untuk berkomunikasi dengan mantan kekasih dan beberapa teman dekat ketika bosan mengirim sms atau telfonan.
Okelah bagi yang mau bantu aku ngehits, silahkan follow aku via Twitter yaa, @morphaa mari bertemaaan 😀

Via Twitter

Kaget tergirang-girang. Ya itu yang aku rasakan ketika terakhir kali memeriksa Hp menjelang tidur. Aku sengaja membuka salah satu akun sosial media yang aku punya untuk mengecek notifikasinya. Tak disangka deretan Mention baru aku dapati, bejibun. Salah satu yang bikin aku tambah girang adalah, Mention dari salah satu Akun Resmi sebuah acara Talkshow di Net.TV. Aku dinyatakan sebagai salah satu pemenang kuis malam yang sebelumnya aku tonton. Aku memang iseng-iseng ikutan dalam kuis ketika acara itu berlangsung, caranya mengirimkan ocehan via Twitter dengan Tema yang telah ditentukan. Aku mengirimkan satu ocehan yang berisi gombalan untuk salah satu bintang tamu disana @rizashahab. Ternyata gombalanku menarik perhatian admin ITnya, aku menjadi salah satu dari dua orang yang beruntung malam itu.
Yang buat aku senang bukan hadiah yang akan aku dapati. Tapi berupa tambahan follower twitterku yang buat aku senang. Norak memang ya, hihii mau gimana lagi, aku pemula di sosmed itu. Apalagi sejak aku bergabung pada tahun 2009 lalu, followerku tak lebih dari 100. Tapi sejak aku diMention oleh akun Talkshow itu, followerku bertambah 100, hehe. Lumayan, buat nambah gengsi. Soalnya yang aku tahu, banyaknya jumlah angka pada kotak follower di profil Twitter seseorang, mengisyaratkan betapa ngehitsnya orang tersebut (lebay). 😛 aku juga tak mau kalah, aku pengen punya banyak follower juga dong. Tapi yang aku rasakan itu, mencari follower adalah sesuatu yang ngeri-ngeri susah. Yang mengartikan aku masih belum ngehits dimata orang banyak 😀 haha, lah iya lah yaa. Twitter itu bagiku hanya untuk berkomunikasi dengan mantan kekasih dan beberapa teman dekat ketika bosan mengirim sms atau telfonan.
Okelah bagi yang mau bantu aku ngehits, silahkan follow aku via Twitter yaa, @morphaa mari bertemaaan 😀

Tanya Bertanya-tanya (part2)

Tiba-tiba terdengar suara memekakkan telinga dari
seberang sana.
Dan…. Tut tut tut tut… Terputus…
Setengah jam sebelumnya aku berhasil, tapi
selanjutnya keningku berkerut dan ada tambahan
pekerjaan di otakku. Aku teringat si penelepon paksa tadi. Yang memaksaku membenarkan panggilannya,
Kevin. Siapa Kevin?? Siapa yang meneleponku tadi??
“Ahh, sudahlah. Toh beneran salah sambung dianya.
Ucapku sambil terus menggenggam ponselku.
Alat rabaku tak sehebat otakku, dimana setelah
setengah jam berlalu aku mencoba membolak-balikan ponselku dan memukul-mukulkannya ke telapak
tangan tapi tak ada hasil. Dan memang secara teori tak
akan pernah berhasil teknik seperti itu. Sedang otakku
sibuk menganalisa, kesialan apa lagi selanjutnya untuk
hari ini.
Pesan masuk di ponselku sepertinya benar-benar harus sabar bertumpuk. Dan akhirnya aku menyerah, tak apa
lah, mungkin screen reader ponselku memang layak
untuk cuti. Mengingat akhir-akhir ini dia sibuk karenaku.
Menemani kesibukanku menyombongkan diri atas
penolakan kata-kata, “mata jendela dunia”.
”Tuk tuk prang….!!”. ”Meooong….”
”Aduuuuh….!!”
Ada keributan di atas, pikirku. Bergegas aku meraba
dinding dan mulai menaiki beberapa anak tangga
setengah perjalanan ke lantai dua rumah ini. Sepertinya
jawaban dari pertanyaan di pikiranku tadi terjawab seketika. Aku sudah berada di dapur saat aku
menjumpai makanan berkuah yang baru disalinkan ke
mangkuk beberapa menit yang lalu oleh adikku
berserakkan ke lantai, bercampur pecahan mangkuk
yang terasa masih panas dan itu ku tahu dari mulut adik
perempuanku yang terdengar kesal. ”Aduh Aniiis…! ucapnya semi teriak.
“Makanya jangan rakus, tuh lihat, tumpah kan
jadinya”.
Aku membantu menegur si Manis kucing kesayanganku
sambil mendengar adikku mengumpulkan tumpahan
gulai pucuak ubi (daun singkong) bercampur ikan Teri serta beberapa pecahan kaca dari lantai. Itulah sayur
yang dibuat oleh adikku diniatkan untuk melengkapi
menu berbuka puasa kami hari ini.
Hari ini adalah hari ke tujuh di bulan Ramadhan. Dimana
tahun ke dua puluh delapan aku menghirup nafas ke
dunia yang penuh warna dan tahun ke tiga duniaku meredup, gelap. Ini juga tahun ke lima aku ditinggalkan
ibu kandungku. Dan tahun ke tiga aku ditinggal Ayah.
Aku hidup berdua dengan saudariku di sebuah rumah
permanen yang mempunyai dua lantai, tepatnya dua
setengah lantai. Dipertengahan antara lantai satu dan
dua ada sebuah ruang yang terletak disebelah belakang rumah dimana disanalah si Manis bikin onar
yang aku sebut dengan dapur. Tepatnya, dapur terletak
”menggantung” antara bagian belakang lantai satu
dan dua.
Ayah sengaja meletakkan dapur disana, agar kami bisa
melihat lantai sebagian dari lantai satu dan sebagian lantai dua dalam satu posisi berdiri. Tapi ternyata aku
tak bisa berlama-lama menikmati pemandangan itu.
Cukup dua tahun setelah rumah ini selesai direnovasi
dan indra penglihatanku tak berfungsi. Rumahku tak
besar, tak juga kecil. Tak kecil karena aku tinggal
berdua disini. Lumayan kecil bila kami masih lengkap dan ketika aku berkeluarga nanti mempunyai empat
orang anak.
”Ups, sepertinya tidak, aku tak akan berkeluarga
sebelum aku jatuh cinta bukan? Dan sepertinya tidak
akan pernah ketika kalian mengingat perkataanku
sebelumnya. Aku tak akan jatuh cinta. Selamanya. Waktu menunjukkan jam setengah enam sore saat
adikku selesai membereskan dapur setelah insiden
kreasi si Manis. Kami siap menantikan bedug tanda ijin
untuk berbuka puasa. Menu sederhana dan cukup untuk
kami sampai nanti untuk sahur esok pagi. Ahh,
bagaimana aku bisa hidup bila tanpa saudariku yang satu itu.
Untuk biaya hidupku sehari-hari aku sudah cukup
bersyukur mendapat penghasilan sebagai pemilik
rumah makan Padang yang baru berkembang. Sebagai
sarjana ilmu komunikasi, aku terlihat sangat banting stir
jadi toke kuliner (juragan) tapi itulah pekerjaan sampingan yang bisa aku kembangkan di duniaku yang
super gelap seperti ini. Dan sudah pasti saudariku juga
ikut andil dipekerjaan ini.
Pekerjaan tetapku, aku bekerja sebagai penulis tetap
pada sebuah majalah lokal dan berada pada kolom
’remaja’. Tulisanku Cuma sekedar fiksi remaja, puisi dan cerpen. Dengan bantuan seseorang teman yang
mau menjadi penolongku layaknya asistenku, yang
menuliskan apa yang aku katakan, dan membacakan
apa yang aku harus tahu dari media cetak. Ya, persis
seperti screen readerku yang sedang cuti itu. Penolong
sejati yang juga butuh cuti. Kudapati si Manis sudah duduk manis di bawah kursi
tempat aku biasa duduk untuk menyantap makanan.
Dengan manja ia menggosok-gosokkan kepalanya di
kakiku saat aku baru mendarat di kursi makanku.
Setelah berdoa, aku dan adikku menyantap makanan
itu dengan penuh rasa syukur. Walau sayur yang tadinya berupa gulai pucuak ubi diganti adikku dengan
beberapa potong mentimun sebagai pelengkap menú
berbuka sore ini. Alhamdulillah.
Walau hidupku terlihat senang dan tentram,
sebenarnya jiwaku di dalam sangat rapuh. Aku sering
kecolongan kehilangan iman saat iri membelenggu di hati. Melihat semua orang bahagia dengan keluarganya.
Ada ayah, ibu kakak dan adik serta punya dunia yang
penuh warna. Aku seperti sudah tak tahu rasa syukur
lagi. Aku terpenjara sendiri dengan sifat jelekku itu.
Padahal aku punya saudari perempuan yang terakhir
kali kulihat sangat cantik sebelum aku keluar rumah dengan ayah tiga tahun lalu dan mengalami kecelakaan
serius itu.
Untuk menghindari keterpurukanku yang sangat dalam
atas kehilangan indra terpenting itu, adikku dan teman-
teman yang iba kepadaku menghadiahi sebuah
kesibukkan. Sebagai lanjutan dari potensi yang aku punya sejak SMP, menulis. Aku dikenalkan pada profesi
penulis di sebuah majalah lokal, sebagai wadah
pengungkap perasaanku.
Malam ini ponselku berdering lagi. Dan sama
lantangnya dengan sore tadi.
”Kriiiing…..” Ku coba mendengar dengan seksama screen readerku
membacakan siapa yang menelepon. Tapi yang ada
hanya suara kring yang sama, semakin ribut malah.
”Wahh, masih tak berfungsi”, pikirku.
Ku coba menjawab panggilan si pelenelepon itu.
”Ya Halo…?? sapaku. ”Keviiiiiiiin, kamu jahat…!!”. Suara yang sama tapi
tuduhan yang meningkat dan memburuk dari siang tadi.
”Oh. Maaf mba… saya bukan Kevin. Saya Marvin. Mba
salah orang…” ucapku menyamai kecepatannya
bicara tadi siang. Aku sedikit merasa menang dan agak
lega karena berhasil mendahuluinya bicara. Entah si penelpon ini tak dengar atau tak mengerti
bahasa indonesiaku atau apa. Dia malah menangis
seperti mau curhat. Dan bersikukuh kalau aku Kevin
yang sedang jahat kepadanya.
”Kevin, dengarkan aku. Aku………..