Mohon Doanya

Sudah beberapa bulan ini aku tersendat. Yah maksudku bukan air got depan rumah yang saat ini sedang bermasalah, tapi ini lebih kepada salah satu bakat terpendamku, menulis. Aku akhir-akhir ini sedikit malu, canggung dan tak percaya diri dengan apa yang akan kutulis apalagi dipublish. Padahal aku ingin menyampaikan banyak hal, mulai dari perasaanku, pendapatku dan harapanku seperti tulisanku yang dahulu. Aku malah sempat menganggap bakatku lenyap. Tapi ketika ada yang mempublish beberapa tulisannya yang menurutku biasa saja, tapi disana penulisnya punya keberanian dan kepercayaan diri bahwa tulisannya akan membuat orang termotivasi apalagi disukai, dan kini dia sukses. Aku buktinya. Aku sedikit tersinggung dan tersindir. Aku tersadar beberapa hal, aku terlalu mengharapkan kesempurnaan. Padahal kesempurnaan ada karena hal-hal biasa yang dibiasakan. Aku masih penulis biasa yang punya tulisan biasa-biasa saja, aku hanya mempublish sesuatu yang benar-benar sudah luar biasa menurutku. Luar biasa galaunya, luar biasa marahnya dan luar biasa bosannya.

Sepertinya aku harus belajar dari nol lagi, penulis pemula. Mohon doanya.

Tanya bertanya-tanya

Tiba-tiba terdengar suara memekakkan telinga dari seberang sana.

Dan…. Tut tut tut tut… Terputus…

Setengah jam sebelumnya aku berhasil, tapi selanjutnya keningku berkerut dan ada tambahan pekerjaan di otakku. Aku teringat si penelepon paksa tadi. Yang memaksaku membenarkan panggilannya, Kevin. Siapa Kevin?? Siapa yang meneleponku tadi??

“Ahh, sudahlah. Toh beneran salah sambung dianya. Ucapku sambil terus menggenggam ponselku.

Alat rabaku tak sehebat otakku, dimana setelah setengah jam berlalu aku mencoba membolak-balikan ponselku dan memukul-mukulkannya ke telapak tangan tapi tak ada hasil. Dan memang secara teori tak akan pernah berhasil teknik seperti itu. Sedang otakku sibuk menganalisa, kesialan apa lagi selanjutnya untuk hari ini.

Pesan masuk di ponselku sepertinya benar-benar harus sabar bertumpuk. Dan akhirnya aku menyerah, tak apa lah, mungkin screen reader ponselku memang layak untuk cuti. Mengingat akhir-akhir ini dia sibuk karenaku. Menemani kesibukanku menyombongkan diri atas penolakan kata-kata, “mata jendela dunia”.

”Tuk tuk prang….!!”.

”Meooong….”

”Aduuuuh….!!”

Ada keributan di atas, pikirku. Bergegas aku meraba dinding dan mulai menaiki beberapa anak tangga setengah perjalanan ke lantai dua rumah ini. Sepertinya jawaban dari pertanyaan di pikiranku tadi terjawab seketika. Aku sudah berada di dapur saat aku menjumpai makanan berkuah yang baru disalinkan ke mangkuk beberapa menit yang lalu oleh adikku berserakkan ke lantai, bercampur pecahan mangkuk yang terasa masih panas dan itu ku tahu dari mulut adik perempuanku yang terdengar kesal.

”Aduh Aniiis…! ucapnya semi teriak.

“Makanya jangan rakus, tuh lihat, tumpah kan jadinya”.

Aku membantu menegur si Manis kucing kesayanganku sambil mendengar adikku mengumpulkan tumpahan gulai pucuak ubi (daun singkong) bercampur ikan Teri serta beberapa pecahan kaca dari lantai. Itulah sayur yang dibuat oleh adikku diniatkan untuk melengkapi menu berbuka puasa kami hari ini.

Hari ini adalah hari ke tujuh di bulan Ramadhan. Dimana tahun ke dua puluh delapan aku menghirup nafas ke dunia yang penuh warna dan tahun ke tiga duniaku meredup, gelap. Ini juga tahun ke lima aku ditinggalkan ibu kandungku. Dan tahun ke tiga aku ditinggal Ayah.

Aku hidup berdua dengan saudariku di sebuah rumah permanen yang mempunyai dua lantai, tepatnya dua setengah lantai. Dipertengahan antara lantai satu dan dua ada sebuah ruang yang terletak disebelah belakang rumah dimana disanalah si Manis bikin onar yang aku sebut dengan dapur. Tepatnya, dapur terletak ”menggantung” antara bagian belakang lantai satu dan dua.

Ayah sengaja meletakkan dapur disana, agar kami bisa melihat lantai sebagian dari lantai satu dan sebagian lantai dua dalam satu posisi berdiri. Tapi ternyata aku tak bisa berlama-lama menikmati pemandangan itu. Cukup dua tahun setelah rumah ini selesai direnovasi dan indra penglihatanku tak berfungsi. Rumahku tak besar, tak juga kecil. Tak kecil karena aku tinggal berdua disini. Lumayan kecil bila kami masih lengkap dan ketika aku berkeluarga nanti mempunyai empat orang anak.

”Ups, sepertinya tidak, aku tak akan berkeluarga sebelum aku jatuh cinta bukan? Dan sepertinya tidak akan pernah ketika kalian mengingat perkataanku sebelumnya. Aku tak akan jatuh cinta. Selamanya.

Waktu menunjukkan jam setengah enam sore saat adikku selesai membereskan dapur setelah insiden kreasi si Manis. Kami siap menantikan bedug tanda ijin untuk berbuka puasa. Menu sederhana dan cukup untuk kami sampai nanti untuk sahur esok pagi. Ahh, bagaimana aku bisa hidup bila tanpa saudariku yang satu itu.

Untuk biaya hidupku sehari-hari aku sudah cukup bersyukur mendapat penghasilan sebagai pemilik rumah makan Padang yang baru berkembang. Sebagai sarjana ilmu komunikasi, aku terlihat sangat banting stir jadi toke kuliner (juragan) tapi itulah pekerjaan sampingan yang bisa aku kembangkan di duniaku yang super gelap seperti ini. Dan sudah pasti saudariku juga ikut andil dipekerjaan ini.

Pekerjaan tetapku, aku bekerja sebagai penulis tetap pada sebuah majalah lokal dan berada pada kolom ’remaja’. Tulisanku Cuma sekedar fiksi remaja, puisi dan cerpen. Dengan bantuan seseorang teman yang mau menjadi penolongku layaknya asistenku, yang menuliskan apa yang aku katakan, dan membacakan apa yang aku harus tahu dari media cetak. Ya, persis seperti screen readerku yang sedang cuti itu. Penolong sejati yang juga butuh cuti.

Kudapati si Manis sudah duduk manis di bawah kursi tempat aku biasa duduk untuk menyantap makanan. Dengan manja ia menggosok-gosokkan kepalanya di kakiku saat aku baru mendarat di kursi makanku. Setelah berdoa, aku dan adikku menyantap makanan itu dengan penuh rasa syukur. Walau sayur yang tadinya berupa gulai pucuak ubi diganti adikku dengan beberapa potong mentimun sebagai pelengkap menú berbuka sore ini. Alhamdulillah.

Walau hidupku terlihat senang dan tentram, sebenarnya jiwaku di dalam sangat rapuh. Aku sering kecolongan kehilangan iman saat iri membelenggu di hati. Melihat semua orang bahagia dengan keluarganya. Ada ayah, ibu kakak dan adik serta punya dunia yang penuh warna. Aku seperti sudah tak tahu rasa syukur lagi. Aku terpenjara sendiri dengan sifat jelekku itu. Padahal aku punya saudari perempuan yang terakhir kali kulihat sangat cantik sebelum aku keluar rumah dengan ayah tiga tahun lalu dan mengalami kecelakaan serius itu.

Untuk menghindari keterpurukanku yang sangat dalam atas kehilangan indra terpenting itu, adikku dan  teman-teman yang iba kepadaku menghadiahi sebuah kesibukkan. Sebagai lanjutan dari potensi yang aku punya sejak SMP, menulis. Aku dikenalkan pada profesi penulis di sebuah majalah lokal, sebagai wadah pengungkap perasaanku.

Malam ini ponselku berdering lagi. Dan sama lantangnya dengan sore tadi.

”Kriiiing…..”

Ku coba mendengar dengan seksama screen readerku membacakan siapa yang menelepon. Tapi yang ada hanya suara kring yang sama, semakin ribut malah.

”Wahh, masih tak berfungsi”, pikirku.

Ku coba menjawab panggilan si pelenelepon itu.

”Ya Halo…?? sapaku.

”Keviiiiiiiin, kamu jahat…!!”. Suara yang sama tapi tuduhan yang meningkat dan memburuk dari siang tadi.

”Oh. Maaf mba… saya bukan Kevin. Saya Marvin. Mba salah orang…” ucapku menyamai kecepatannya bicara tadi siang. Aku sedikit merasa menang dan agak lega karena berhasil mendahuluinya bicara.

Entah si penelpon ini tak dengar atau tak mengerti bahasa indonesiaku atau apa. Dia malah menangis seperti mau curhat. Dan bersikukuh kalau aku Kevin yang sedang jahat kepadanya.

”Kevin, dengarkan aku. Aku………..

November 2012, morpha

(sambungan bebas dari suatu Cerpen dan dibuat agar bisa disambung lagi oleh penulis lain)

Untuk Sahabat Pena

Dear Sahabat Penaku

Di

Pulau khayalan, Jawa.

Salam akrab sahabat,

Sudah lama sekali sejak suratku sebelum ini kita berkomunikasi, maaf aku terlalu sibuk bekerja. Kamu tahu bukan, hidup di beberapa tahun terakhir ini agak sedikit sulit, semoga kamu disana bisa sukses dan tentunya sehat jiwa raga.

Seperti biasa, aku menulis surat ini sekedar berbagi perasaaan padamu teman. Sudah bertahun kita berbalas surat seperti ini, dan kamu tahu, aku sangat suka berbagi denganmu. Menuliskan beberapa kejadian, perasaan, kesenangan, dan kesedihan.

Dan akhirya aku tak sabar ingin bercerita padamu, aku mulai saja ya.

Ahh, sahabatku. Pertemanan di jaman saat sekarang sangat mudah, amat sangat mudah. Seiring teknologi dari gadget terbaru yang bersaing satu sama lain. Hal ini didukung hebat oleh beberapa aplikasi di dalamnya, salah satunya Sosial Media. Tempat berteman di dunia maya. (tapi kita sengaja tidak berteman di dunia itu agar surat menyurat ini tetap seru, aku lebih suka seperti ini).

Aku, seperti yang kamu tahu seorang gadis usia seperempat abad ini pun tak kalah tertarik pada gadget dan aplikasi-aplikasi menarik di dalamnya. Aku suka berteman di berbagai sosmed yang ada saat ini, semua bisa kubagi termasuk dengan teman lama dan teman baru tentunya. Aku memang tipe orang suka berteman, semua bisa kujadikan teman. Baru bertemupun kalau ada yang ajak bicara akan aku ladeni dengan baik, tentu bagi yang ingin mengobrol dengan baik saja yang akan aku layani dan pastinya dengan batas-batas tertentu. Pertemanan baru pun bila ada yang ingin dilanjutkan lewat media sosmed pun akan aku terima, sebatas teman atau tambahan relasi lewat pesan atau chatting apa salahnya, bukan?

Apa kau tahu, teman? Sepertinya untuk saat sekarang aku hanya bisa sekedar tertarik saja dengan yang namanya gadget terbaru bin canggih keluaran tahun ini. Walau aku sudah mati-matian berhemat uang jajan demi mendapatkan salah satu teknologi itu, aku terpaksa menghapus keinginanku dengan berat hati. Uang jajan yang aku tabung cicil lewat arisan itu akhirnya kuputuskan untuk beli perhiasan saja. Bisa menabung sambil berhias. Lumayan untuk modal usahaku kelak. Modal menikah? Sempat terpikir sih, tapi tidak usahlah. Biar calon suamiku saja yang memikirkan modal menikah kami. Aku ingin pre wedding di pantai, nikahan di kampung halaman, resepsi di gedung, bulan madu di Korea, tinggal dan mengasuh anak di rumah baru di pulau jawa, tidak usah kerja. Wah pasti menyenangkan sekali menjadi wanita seberuntung itu, bukan? Pasti dirimu juga berfikir sama denganku. Haha, biasalah kita sesama wanita ingin dapat bersihnya saja.

Wah temanku, aku bisa menabung perbulan saja itu sudah sangat sukses, mengingat gaji seorang guru honorer tidak sebanyak gaji karyawan pabrik yang mencapai UMR tahun ini, beban pekerjaanku saat ini bisa digolongkan sama dengan karyawan pabrik. Sulit-sulit bergembira dengan upah seadanya.

Bicara tentang alasan aku menghapus harapanku untuk memiliki salah satu gadget (smart phone) itu diawali dengan masalah sepele dengan kekasihku yaitunya “aku punya banyak kenalan baru”.

Sepele bukan teman? Sudah aku tekankan tadi, bahwa aku bisa berteman dengan siapa saja, dimana saja, kapan saja. Dan aku akan meladeni pertemanan dengan standar-standar saja. Tapi sayang, kekasihku tidak mau mengerti. Aku paham dia cemburu, tapi layakkah yang dicemburui itu termasuk sepupuku juga? Kami satu suku dikaumku, yang punya aturan adat tidak boleh menikah satu pesukuan. Nah, sudah dipastikan aku takkan ada apa-apa dengannya, bukan?.

Entahlah, kalau diperpanjang-panjang lagi, tak ada habisnya, yang penting aku saat ini sedang galau tidak jelas gitu (hohoo). Disamping itu aku menemukan sisi terburuk kekasihku yang tidak bisa melindungiku dan menghargai aku sebagai kekasihnya. Seenaknya sendiri, punya aturan sendiri. Dan tidak salahku kalau aku sudah membayangkan betapa sempitnya hidupku. Hanya Allah yang tahu.

Sekarang aku bekerja dengan separuh hati, ingin keluar dari pekerjaanku sebagai guru honorer, aku belum punya batu loncatan setelah keluar dari pekerjaan ini. Disamping itu aku tetap mencari pekerjaan lain yang lebih cocok dengan kebutuhan dan ilmuku. Target menikahku aku urung jauh lagi. Aku benar-benar putus asa kalau mengingat bila aku sampai melangkah ke jenjang selanjutnya, menikah.

Oh ya teman, selamat atas pekerjaan barumu sebagai wakil direktur di perusahaanmu itu. Semoga sukses teman. Aku turut berdoa untukmu. Dulu kau pernah bilang padaku kalau garis takdir kita berbeda-beda setiap manusia, kau benar. Aku galau bukan temasuk menyalahkan Tuhanku, tapi aku menyalahkan diriku sendiri yang belum bisa bersikap seharusnya. Mungkin ini cara Tuhanku mengajarkan aku untuk lebih membuka mata dalam segala hal yang terjadi, dan aku akan berusaha lebih baik lagi, aku janji.

Baiklah teman, itu sedikit curahan hatiku saat ini, aku harap kau berkenan membacanya dan memberiku nasehat sebagai teman. Dan Selamat Natal yaa…

Salam Hangat

Kawan lama

2013, morpha

Menunggu Rindu

Menunggu rindu

Plak…Plak…

Rasa lega dan puas menghampiriku. Setelah berhasil memburu seekor nyamuk yang sejak tadi menggangguku. Aku sedang menikmati makan malam sambil nonton TV malam ini di rumah kakak sepupuku yang kini jadi orang tuaku.

Seekor nyamuk yang entah darimana asalnya, sejak dua hari ini bersarang di rumahku ini. Memang belakangan ini hujan kerap turun dan membasahi rerumputan di sekeliling rumah dan suasana lembab pun tak terelakkan.

Segera kubuang bangkai nyamuk yang menjadi piala kemenanganku malam ini. Bergegas kuayunkan kaki menuju dapur untuk mencuci tangan. Yah, selain karena sehabis membunuh nyamuk, aku juga telah selesai makan. Dapur yang berjarak sekitar 10 m dari ruang santai alias tempat menonton TV alias tempat favoritku untuk menyantap makan malam cukup menyimpulkan sebuah rumah yang cukup luas.

Kembali lagi ke ruang santai, dengan perut kenyang aku kembali ke posisiku tadi, depan televisi. Tapi bukan berarti aku nonton TV. Aku lebih senang bolak balik koran dan majalah daripada nonton TV. Dan itu terjadi saat tayangannya menampilkan acara Gajebo (nggak jelas bo’) atau drama-drama yang terlalu didramatisir.

Seperti sinetron. Sinetron yang malam ini berlaga di satu-satunya televisi di rumah ini. Yang tayang setiap sore menjelang malam, yang ditonton sambil kejar-kejaran dengan waktu untuk melaksanakan shalat maghrib.

“Mika…!! Buruan shalat…!!!”

“Udah jam berapa nih!?” Emakku mengingatkan saat kakakku asyik menonton.

“Iya, iya…bentar, nunggu iklan dulu yaa. Nanggung nih, lagi seru-serunya…!!”

Pemandangan yang amat sangat begitu tidak mendidik! Apalagi sinetron anak yang mengajarkan anak kecurangan mengajarkan kekerasan, keberanian yang berlebihan (berbuat nekat).

Yap…!! Balik lagi ke aku-nya.

Aku yang sudah bosan, males atau apalah sama yang namanya sinetron atau reality show tidak jelas masih membaca apa yang bisa kubaca tak terkecuali majalah yang isinya gossip semua, koran yang isinya perang semua, novel yang ceritanya cinta semua, dan yang terakhir HP.

Iya, maksudnya sms yang ada dan bakal ada di dalamnya. Karena aku membaca majalah sambil ngobrol dengan seseorang lewat sms (pesan singkat). Sebuah benda kecil pemberian kakakku yang membuatku merasa tak sendirian saat sepi. Benda yang membuatku selalu senang setiap saat karena isi pesan di dalamnya yang dapat melancarkan peredaran darah di otakku dengan cepat dan ajaib. Aku menyayanginya…

Bip…Bip…Biiip…!!

Sebuah pesan untuk kesekian kalinya mendarat di HP ku.

“Assalamualaikum,,,

Sedang apa ja,?

Ganggu nggak nih,,

Sender : Marvin (+6281363330xx….)

Deg…!!

Hah, bang Avin?? Kagetku yang sedikit ikut mengagetkan ibu dan kakakku yang lagi serius menonton sinetron favoritnya.

Kukira masih dari teman kampusku tadi yang marah-marah karena aku lupa kembalikan flasdishnya.

“Waalaikumsalam,,,

Sedang santai nih, Baca2…

Bagaimana kabar Bang,?

Kok tumbenan,?

                                        Send to : Marvin

Bip…Bip…Biiip!!

“Iya nhi…Abang lagi di kampung…

Besok ketemuan yuk…

Kangen nih, apa nggak kangen sama abangmu yang ganteng ini,??

he…he..

Sender : Marvin

“-.- hmm…boleh boleh. Dimana?

Send to : Marvin

Bip…Bip..Biip!!

“Di rumahmu saja.

Besok sore aku ke sana yah….

Sender : Marvin

Hah, Marvin. Seorang teman lama yang sudah lama tak ku dengar kabar beritanya, sejak dua tahun lalu. Dia bukan teman SD, SMP atau SMA tapi dia seorang teman yang kudambakan jadi sahabat yang selalu ada dalam hidupku.

Saat itu terakhir kulihat dia sedang risau dan kacau. Dari Marvin yang kukenal cerewet, jahil dan kocak. Berubah jadi Marvin jadi-jadian, yah semuanya berubah. Dia jadi pendiman, uring-uringan dan melamun seperti orang kena PHK yang masih menanggung 4 orang anggota keluarga yang menanti di rumah.

Jika kutanya mengapa, dia tetap diam. Saat itu kami menghadiri acara pernikahan kakak temannya Marvin, Regi. Akupun menghadirinya karena paksaan dari Marvin dengan berbagai alasan, tapi kali ini…

“Nggak enak sama Regi, udah janji nih sama Regi mau bawa kamu, ikut yah..yah..yaaa…!!”. Di tambah dengan raut wajah memelas jurus pamungkasnya yang dilayangkan kepadaku.

Dengan alis berkerut tak teratur aku mengalah…

“Yah…okelah!!

Saat di pesta dia agak aneh, tak seperti biasanya. Tapi gokil dan gilanya tetap ada saat bernyanyi asal-asalan disudut grup musik pada pesta itu. Tapi kulihat agak lain. Seperti senang dibuat-buat atau malah senang-senang untuk melampiaskan sesuatu.

Kupaksakan hatiku untuk sabar setelah 3 hari berturut-turut Marvin bersikap diam dan linglung seperti itu. Masa jumpa kami berkurang. Jumlah sms-an kami menurun drastis dan itu pun terasa dingin. Ingin rasanya kutanya langsung, ya walau dengan gurauan, entah mengapa aku takut, perasaanku tak enak, aku takut dia tersinggung dan marah. Jadi kurelakan waktu bersabarku berjalan tanpa ujung. Biarlah kutunggu dia yang cerita.

Sampai dia menghilang tanpa jejak, benar-benar tak ada jejak…

Bip, Bip, Biiip…!! HP ku bunyi lagi, buyarkan lamunanku.

“Hei…hei…!!

Gimana? Boleh nggak nih??

Sender : Marvin

“Hooh, iyaa…

Bole boleh,,

Ditunggu yaa…

Send to : Marvin

Hhmm…Marvin…Marvin..

2 tahun waktu yang cukup untuk memanglingkan diri dari seorang teman yang tak punya sopan santun seperti dia. Dia yang pergi begitu saja dari kehidupanku tanpa salam, sapa ataupun kata. Ketika kupaksa temannya untuk beri tahu, katanya Marvin pindah ke luar kota bersama Ibu dan adiknya. Kucoba mencari ke rumahnya kudapati rumahnya kosong dan tampaknya sedang diperbaiki, dan kucoba tanya pada pekerja di sana, rumah Marvin sudah dijual dan akan ditempati orang lain.

Deg…!

Saat itu langsung saja telingaku berdengung, jantungku berdegub kencang.

Dia pergi…Jahat!!!

Beraninya dia pergi tanpa bilang padaku. Kucoba berkali-kali menelepon dan kirim pesan padanya tapi nomornya tidak aktif. Ingin marah, kecewa, kesal semua bercampur di dadaku, aku tak enak hati. Sahabat, teman, abang terbaikku telah pergi.

Seiring waktu 2 tahun dia kembali, masih dengan nomer favoritku di deretan nomer-nomer di HP ku. Dan besok kami akan jumpa setelah waktu yang lama tak bersua. Hati bimbangku menunggu sesuatu darinya, cerita…

“Heh, Piak!! (sapaan pada anak perempuan)

Buruan tidur, udah jam berapa nih?? Bengong aja dari tadi…

Makku mengagetkanku dari lamunan tentang masa laluku yang membingungkan.

“Hhmm…semuanya akan jelas besok sore, harapanku…

Dengan hati senang ku beranjak dari tempat duduk ku sejak tadi. Bergegas kurapikan kembali majalah yang terbuka lebar di pangkuanku yang tak sempat kubaca tadi. Dan langsung ke kamar melakukan beberapa aktivitas sebelum tidur.

—————————————————

Besoknya,

♪ dalam benakku lama tertanam berjuta bayangan dirimu…

redup terasa….

Marvin calling….

– Klik!!! Halo…

“Ya halo, Assalamu’alaikum Ja?

– Hmm, yah?? Wa’alaikumsalam….

“Belum bangun ya?? Ya ela…udah pagi Ja!!

Bangun gih!! Shalat subuhnya belum tuh!!!

– Hmm?/ Eh, iya, iya deh..

“…??

– Eh iyaa… shalat subuh iya…

“Gitu donk..duduklah, baru ngomong…

– Hmm…??

“Tu kaan??

Kupaksakan badanku untuk duduk dengan proses loading yang baru mencapai angka 65%.

– Apa?? Iya iya shalat…

“Nah gitu kek dari tadi. Ntar sore jadikan?

– Iya…

“Itu aja, bangun gih!! Mandi, gosok gigi… Bau tuh, ha ha

– Yee… Biarin…

“Hehe, iya deh, sampai ketemu nanti sore yaa..

Daah…Assalamu’alaikum

– Ya…daah, wa’alaikum salam

Huh, kembali kubaringkan tubuhku, masa konek yang mencapai 75% masih kulewati di dalam kamarku yang tak begitu besar bernuansa krem merah tua. Dengan tak banyak pernak pernik, masih lumayan untuk cewek badung seperti diriku. Aku memang tak suka yang neco-neco alias ribet untuk diriku.

Masih terbayang olehku sahabat lamaku yang menghilang 2 tahun ini, dia kembali. Butuh satu ruang untukkku ceritakan tentang dirinya.

Pagi ini, aku berencana untuk ziarah ke makam ibuku, 5 bulan sudah dia pergi, meninggalkan duka di hati. Banyak kesanku untuknya tapi ya sudahlah, tak baik aku mengganggu tidurnya yang damai. Doaku hanya untuknya (Ibu).

Kembali dari pemakaman Ibu aku langsung ke pasar, beli sesuatu yang bisa dimakan untuk santai alias cemilan. Stok cemilanku habis…hoho.

Siang itu matahari sangat terik yang cukup mampu membuat seluruh jagad raya mengeluh pelan tapi pasti…gerah!!

—————————————————–

Nih pak, ongkosnya. Kusodorkan uang kertas lima ribu rupiah kepada sopir angkotnya. Dan ada kembaliannya dua ribu rupiah. Aku lalu meninggalkan angkot Jurusan TPU Damar – Pasar (Pusat kota). Yah, upah tiga ribu rupiah untuk jasa angkutan berjarak ± 2 km memang tergolong mahal. Tapi mau gimana lagi segalanya serba mahal walau harga BBM di negaraku telah diturunkan. Pemerintah merencanakan penurunan ongkos angkot, hasilnya terjadi pro dan kontra dimana-mana. Para supir mogok kerja, mereka menyayangkan peraturan pemerintah atas penurunan ongkos.

Mereka beralasan, “Yang turun kan cuma harga BBM, emang harga beras turun? Emang rokok murah? Emang sembako nggak mahal? Yah omelan demi omelan santer terdengar dimana-mana, khususnya Pak Sopir angkot tumpanganku.

Setelah membeli beberapa keperluan, aku kembali pulang. Sesampai di rumah aku mulai berkemas untuk persiapan kembali ke kota Padang tempat aku kuliah. Karena besok sore aku balik ke kota setelah habiskan akhir minggu di kampung. Dan seninnya hari pertamaku ujian semester ganjil. Ujian bagiku bukan hal yang menakutkan (bukannya aku sok pintar yaa). Malah hal yang menakutkan bagiku adalah hari pertama kuliah dengan mata kuliah yang baru.

Heh….aneh! aku pun tak tahu mengapa begitu. Bagaimana aku bisa jelaskan pada kalian yah. Maklum ajalah! Okeh?!

Waktu pun berlalu, waktu di rumahku menunjukkan jam 14.10 saat bel di rumahku berbunyi.

♪ neng….nong…neng…nong!!! neng noooong!!

Haduhh ngebet banget tu orang, mencetnya kayak mau nagih utang aja.

Seraut wajah tampan dengan senyuman manis yang kukenal baik jauh sebelumnya menatapku penuh tanya saat kubukakan pintu. Ternyata dia adalah sahabat/abang yang tak sopan yang dulu pergi meninggalkan segores luka sejak 2 tahun yang lalu… Marvin.

“Eh, hai Oja….Assalamu’alaikum…

“E, hei!! Wa’alaikumsalam…

Tangan kanannya diulurkan padaku agak terlambat, kami pun berjabat dan kurasa, dingin.

“Gimana kabar nih? Tambah manis ajah…

“Ih, dasar!! Mulai deh..

Masih mau nongkrong disitu? Yuk masuk!! Ajakku.

“Nggak ah diluar aja biar asik.

Akhirnya kami hanya duduk di teras rumah saja. Kami mulai perbincangan dengan saling tanya kabar. Perasaanku campur aduk saat itu. Ingin rasanya ku keluarkan pertanyaan mendasar lukaku sampai saat ini. Mengapa? Tapi ku hanya coba menunggu.

Oya, kok tumben nongol sekarang, orang jauh yaa sekarang!! Hehe. Kucoba memancingnya dengan candaan. Dan berhasil dia mulai membeberkan alasan kepergiannya yang mulanya juga dibubuhi candaan tapi menakutkan!!

Ternyata kepergian Marvin karena melarikan diri dari Bapaknya. Dan sebelumnya dia juga pernah cerita bahwasanya Bapaknya sangat keras! Bahkan kakak perempuan Marvin yang tertua telah hilang entah kemana. Kabarnya dia juga melarikan diri karena tak tahan aturan Bapaknya. Marvin juga sering mendapatkan perlakuan kasar dari Bapaknya tanpa alasan. Bahkan sebulan sebelum Marvin melarikan diri ke luar kota, dia sempat dikurung seminggu di dalam kamarnya. Alasannya tak begitu jelas. Yang pasti, dia waktu itu hanya pergi keluar membeli obat flu untuk ibunya yang sedang sakit. Itupun apotiknya hanya di seberang jalan raya depan rumahnya.

Entah kenapa, sehabis meminumkan ibunya obat tadi, Marvin langsung masuk kamar dan tak sadar pintu kamarnya telah dikunci Bapaknya dari luar. Seminggu penuh!! Sialnya jendela kamar Marvin kebetulan dipasang besi pengaman, jadi susah baginya untuk kabur.

Untuk makan, ibu Marvin selalu sembunyi memberinya makanan dan langsung dikunci lagi karena takut amarah Bapaknya meluap lagi dan akan tertuju pada ibunya.

Dan Marvin pun bisa saja langsung kabur hari itu juga meninggalkan rumah dengan bantuan ibunya. Tapi dia tak tega meninggalkan ibunya yang masih sakit yang pastinya akan jadi bualan Bapaknya nanti. Dan dia tak berani memberitahukanku tentang masalahnya itu, dengan alasan aku tak boleh ikut pusing memikirkannya.

Aku terdiam, berpikirlah otakku. Rasa bersalah, lega, kasihan, takut semua berjejer di otakku.

Setelah lama saling diam, aku baru ingat belum memberinya minuman.

“Ups…Sorry minumnya lupa!

“Alhamdulillah, kerongkongan yang dari tadi kering bakal terobati juga. Sahutnya datar.

“Hehe, ya maap! Lupa…

Aku segera berlari ke dapur sambil tertawa geli.

Hmm….Marvin…Marvin..

Dari dulu aku memang tak bisa marah lama-lama sama dia. Sekesal-kesalnya, sebenci-bencinya dulu, aku bisa saja dengan gampang lupakan semua. Yaa…memang aku bukan tipe orang pendendam. Cukup marah-marah sebentar, besoknya sudah bisa lupa asal jangan diungkit lagi.

Panasnya siang berganti sejuknya udara sore hari di halaman rumahku, tak terasa sudah cukup lama aku berbagi cerita dengan Marvin. Sampai akhirnya Marvin menutup pembicaraan dan pamit untuk pulang.

“Oya Ja, aku pulang dulu yah..

Udah sore, nggak enak sama mamanya Regi. Aku cuma numpang nginep aja seminggu ini. Minggu depan bakal ke Jogja lagi.

“Hah, seminggu? Bentar amat?

“Iya, kan aku sudah cerita tadi, aku sudah punya pekerjaan di Jogja.

“Heh, iya deh… Makasi kunjungannya ya… Terus makasi juga sudah ingat mampir ke sini.

“Ngomong apaan sih Ja? Biasa aja kali. Malah aku yang harus berterima kasih, kamu mau ngerti posisiku sebenarnya. Aku nyesel banget Ja, nggak jujur sama sama kamu dulu. Aku…..

“Ya sudah! Sudah! Buruan pulang gih!Bosan nih liat muka memelasmu itu, jelek!

“Yee, ngusir…. Iya deh aku pulang….daah…

Perjumpaan pertama sejak 2 tahun ini membuatku gila. Kadang senyum sendiri, sewot sendiri dan tak jarang membodohi diri sendiri serta masih menyalahkan Marvin….Hah….!!

Malamnya dia kembali berkunjung tanpa sepengetahuanku sebelumnya. Aku yang berencana makan malam itu langsung membukakan pintu dan mendapati Marvin yang membawa sebungkus nasi goreng dan 2 gelas cappuccino hangat.

“Waduh…waduh… tahu banget dirimu kalo perutku lagi lapar, hehe..

“Iya donk…nih langsung dihajar aja, mumpung masih hangat.

Langsung saja aku santap nasgor (nasi goreng) bawaannya dan memaksanya untuk ikut makan. Yah, mana habis tiu nasgor sebungkus dimakan sendirian!

Kami melanjutkan obrolan tadi yang terpotong dengan suasana yang lebih santai dari tadi sore. Dan aku pun baru tahu kalau Marvin di Jogja tinggal bersama ibu dan adiknya. Setelah berhasil kabur dari Bapaknya dulu, Marvin mengajak ibunya untuk pindah dan tinggal sementara di rumah saudara Bapaknya dan baru cari rumah kontrakan. Dan aku pun baru tahu Bapaknya juga pindah ke kampung halamannya dan kabarnya telah menikah lagi.

Marvin mengaku sangat terpukul karena kejadian itu. Bahkan bertahun-tahun sebelumnya. Itu makanya dandanannya selalu urak-urakan.

Dan emang sejak aku mengenal Marvin tepatnya tiga setengah tahun lalu aku bertemu dengannya memang dengan kondisi seperti itu. Perokok, pemurung dan tak jarang kudapati tubuhnya memar. Bila ku tanya, “Ah, semalam berantem sama teman yang lagi mabok”. Aku percaya saja karena rata-rata temennya memang urak-urakan gaya bak preman.

Sepekan penuh aku bertemu tiap hari dengan Marvin, tak terkecuali saat aku berada di Padang, kuliah. Dia menginap di kosan Regi, temannya yang juga tempat menginapnya saat di kampung. Marvin mengantar dan menjemputku sepekan itu dan akhirnya dia harus kembali ke Jogja. Aku cuma mengantarnya sampai depan kelasku, karena siang itu aku memang sedang kuliah, ujian malah!

Obrolan terakhir kami agak berantakan, sama-sama gugup. Jujur, aku tak ingin Marvin pergi lagi. Takut ia tak kembali. Marvin berpamitan dengan wajah memelasnya yang berusaha disembunyikan tapi tetap saja terlihat jelas bagiku. Aku hanya tersenyum saja saat dia berpamitan.

Marvin berangkat. Dengan langkah gontai aku berjalan masuk kelas yang ternyata aku terlambat 10 menit. Untung benar-benar belum dimulai ujiannya. Pikiranku masih kacau. Konsentrasiku hilang, mengingat dan takut Marvin pergi tak kembali lagi seperti dulu.

Tiba-tiba….

Bip…Bip…Biiip!!

“Ja….

Sampai ketemu lagi yaa…

Kuliah yang benar. Biar cepat jadi Sarjana dan Merit, hehe

Biar aku punya ponakan kembar yang lucu…

Oyah, aku berangkat ya, jangan pake nangis, biasa ajai…

Kalau kangen kan bisa langsung telpon aja, hehe

Oke manis? Miss U ^_^

Sender : Marvin

Huh, dasar! Gilanya nggak ilang-ilang.

Aku pun membalas.

“Iya, iya….cerewet!

Ho ‘oh dah, kamu juga kerja yang bener.

Biar suksesnya cepat dan bisa buka cabang disini kek, apa kek.

Biar kalau kangen, aku nggak perlu buang pulsa buat nelpon kamu, hehe

Sampai ketemu juga ya ^_^

Aha, sms yang lumayan bikin aku semangat lagi hadapin ujian siang itu.

Nah, seminggu kemudian sejak Marvin kembali ke Jogja. Seperti biasa HPku berbunyi untuk yang kesekian kalinya, tentunya dari Marvin. Isi smsnya kali ini buat jenuhku hilang karena bosan di kampung saat liburan semester. Sebuah jawaban dari candaanku sebelumnya, yang ternyata digubris dengan serius oleh Marvin.

“Bulan depan peresmian kantor baruku di sana, tungguin yah..

Tahan dulu kangennya….. hehe

Sender : Marvin

Deg!!! Astaga aku ternganga.

The End

2009, morpha

Maaf dan Terima Kasih

lelah, memang

menjadi penipu layaknya seorang profesional

menipu lingkungan yang patut ditipu

bila sedang tak tertipu

lingkungan itu selalu menyombongkan diri dan merendahkan

tak bisa diajak berkawan baik

tapi terampil diajak menjadi duri

bermuka dua dan berlagak suci

tak tahu dosa sendiri

 

penipuan ini sudah lama

berjalan pelan tapi pasti

tak ada unsur kepentingan ingin diagungkan disini

hanya sekedar punya target dihargai, tak lebih

dan tentu tak pernah bertujuan meraup untung materi

 

menjadi penipu ternyata punya masa lelah juga

lelah berpura-pura

lelah berfikir langkah tipuan selanjutnya

lelah menyembunyikan kebenaran

dan lelah berlagak sempurna

 

maaf dan terima kasih

ternyata, walau tak dihargai

penipu ini seorang yang dipercaya

dan itu, sangat menguntungkan.

 

160514

perasaan apa ini.

perasaan apa ini.
penuh tapi terasa setengah
ada tapi terasa hampa
dicinta tapi terasa dihiba saja.

perasaan apa ini.
mungkinkah ketidaksengajaan mengawali kisah ini?
ataukah sudah terlanjur basah?
dan dipaksa mandi walau tak punya kapasitas air yang memadai.

perasaan apa ini.
mereka punya kisah sendiri, disana
aku punya kisah sendiri, disini
kisah kami ada, hanya ketika ada waktu senggang saja
itu pun kalau sedang ingat
bila tidak, yaa tak ada kisah hari ini

perasaan apa ini.
masa depan tergambar menyusahkan
mencoba pelajari sedikit demi sedikit
mencoba mengeraskan hati ini
keras, untuk yaa
keras, untuk belum
bersusah untuk hilangkan “tidak”

lalu apa?
perasaan apa ini.
yang kondisinya tergambar susah sendiri
susah mengukir asa di hati, sendiri
seperti tidak ada upaya dari hati yang menghampiri
ataukah sekarang masa itu sudah bisa disebut masa lalu?

perasaan apa ini.

Nyanyian Kurungan

melepas keheningan jiwa

melempar kegundahan rasa

ketika tinta hitam tak bertuan merambah jalanan

ketika pemikiran melampaui batas penghayatan

ketika itu lah akar sumpah serapah mengguncang sanubari

hingga tak sadar diri

menorehkan sakitnya hati

kerinduan akan kebebasan raga mengungkit cerita lama

saat hijau masih tenang

saat putih masih suci

saat kalbu masih murni

kau!!

pembuat hancur jalanan logika anganku

penobat sakit jiwa ragaku

akarmu itu memang kuat kurasa

tapi lihat rantingmu…

lebih berayunnya lambaian jemari-jemariku

tapi mengapa kau selalu mengusik takdirku?

takdir akan jauhnya pekat dari kelabunya asa ku

takdir akan tak samanya si hitam dan si putih…

jangankan melawan mu

berpikir burukpun aku harus pikir baik-baik sembilan kali

kau memang pupuk tanaman mudaku

tapi kau selalu tak punya hati untuk rasakan nyanyian hatiku

merobek harga tiap daun-daunku

jatuh mengering tak berdosa

bila goresan tintaku terus saja memaki alunan kebaikanmu

aku pantas dibilang tak tahu diri

menghianati pemberian

menodai penghibaan

yang tak kenal keikhlasan darimu

lalu aku mau apa?

hijau daunku memang berhutang budi pada air mu

ah, tidak!

040410