Memperpanjang hari

Ketika subuh menjelang, suka duka selalu menyelimuti dinginku mengawali hari ini. Berpacu dengan matahari yang menjalankan tugasnya di luar sana dan tugasku di dalam sini, tanpa saling terlihat sampai si matahari hilang dilarut malam.
Dan ketika malam tiba, lelah dan letih pun tak pernah absen menghampiriku. Tapi aku tak ingin langsung terlelap. Karena aku tahu, bila terlelap, pagi akan datang dengan cepat. Dan akan kembali mengulang hari seperti hari ini, nanti dan seterusnya.
Aku sidikit bosan.
Aku lebih suka menahan kantuk sedikit lama dari orang kebanyakan yang sudah menguras energi sepanjang hari demi mendapatkan upah, makan, air dan kehidupan. Dengan begitu, aku bisa sidikit menikmati hidupku di malam hari. Mengatur nafasku, merajut mimpi-mimpi yang kusengajakan lebih tinggi dari hidup nyataku, itu membuatku bersemangat dari apapun. Aku bukannya pesimis, Tuhan tak menyayangiku. Aku malah sangat yakin Tuhan sedang menyiapkan kemudahan untukku. Aku hanya perlu bersabar dan tetap terlatih untuk hidup susah. Kalau untuk hidup senang tidak perlu berlatih, bukan?
Resiko terburuk saja yang perlu disiapkan, jadi apapun yang terjadi, baik atau buruk kita telah sangat siap. Tak perlu berubah jadi orang gila atau tak beriman.
Tapi kalau selalu berfikiran buruk juga tidak baik. Aku selalu memikirkan hal yang indah-indah dan baik yang ingin aku dapatkan sebagai balasan kesabaranku selama ini. Sekali lagi, itu membuatku bersemangat kembali.
Aku tak tahu apa pendapat kalian. Tapi begitulah caraku menjalani hidupku yang kian sulit ini.
Ketika siang,  aku dihadapkan dengan kehidupan nyata yang sulit nan membosankan. Akan kugunakan malam untuk menelaah kembali apa yang kuinginkan dan apa yang Tuhanku kehendaki. Bukan untuk menyia-nyiakan umur yang sudah tak muda lagi, tapi sebagai jalan lain agar aku tak terlalu memikirkan dunia fana ini.

Advertisements

Road to novel #sikembar

1. Keluargaku

Sini…sini…sini…!!!
Setoop!!
Mobil yang aku tumpangi kusuruh berhenti. Tepat di depan sebuah rumah yang dikelilingi oleh bonsai yang tertata rapi mengesankan sebuah pagar yang cukup kokoh berwarna kuning cerah. Di halamannya terparkir satu buah mobil tua keluaran lama, catnya berwarna hitam penuh goresan, 1 motor matic yang dimodifikasi yang cukup menggambarkan bahwa empunya seorang yang cukup modis dan cukup gaul serta sebuah scooter hitam yang bisa menarik perhatian pengguna jalan bila dibawa konfoi seputaran jalan kota besar.
Rumah itu terkesan tua, bergaya lama tapi cukup keren. Rumah panggung yang dibikin lebih maju atau modern dari sebelumnya. Itu terlihat dari bagian depan rumah yang direnovasi dan di bagian belakang masih asli saat rumah itu dibangun pertama kali dengan kayu kualitas tinggi. Terkaanku, rumah itu punya empat kamar yang cukup luas untuk 3 orang anak dan sepasang orang tua serta punya dua jenis lantai. Di bahagian depan rumah, berlantai keramik yang senada dengan warna lantai kayu dari bahagian belakang rumah yang lama. Sejuk, pikirku.
Mobil yang kutumpangi parkir tepat di belakang 2 motor tadi. Dengan hati senang segera kuturuni mobil itu karena kutahu yang kucari pasti ketemu karena 2 motor itu adalah petunjuknya.
Tanpa pikir panjang segera kumasuki rumah itu dengan membaca salam. Yang sebelumnya sepatu kets yang ku pakai dibuka dulu dan menaiki 3 anak tangga. Kudapati seorang lelaki muda berparas tampan yang sedari tadi sudah menyadari akan datangnya tamu tak diundang ini, yaitu adik perempuannya.
“Bang igoooo! Teriakku pelan.
“Heh, ngapain kesini?
“Wew, jahat!! Teriakku manja.
Walau agak jengkel gara-gara ucapan selamat datang yang sangat menghujam jantung itu, sangat tak membuatku berpikir dua kali untuk memeluk lelaki itu dengan satu lompatan yang berujung pemaksaan.
“Aduuh, sesak nih!
Teriak lelaki itu dengan tampang tak terima dan mencoba melepas tanganku dengan sedikit meringis. Karena aku memeluk dengan sedikit bergantungan tepat dipundak dan lehernya. Itu karena dia jauh lebih tinggi diriku.
Dia lebih tua beberapa tahun dariku. Tepatnya ia berusia 28 tahun sekarang ini, dibulan ini. Dia adalah kakak laki-lakiku yang kedua, Zigo. Yang kutahu pribadinya cerewet, ceplas-ceplos, smart dan perokok berat.. Dengan rambut yang sedikit panjang diikat tak terlalu rapi, dapat menyembunyikan sifat cerewet dan smartnya. Berganti dengan kesan cool, pendiam dan pemalas. Tapi itu memang wajahnya, wajah tampan berhidung mancung yang dipunyai 2 orang di rumah ini.
“Yee, gitu aja sesak, gimana sih?
“Eh iya bang Ogi mana?
“Kapan pulang?
“Oleh-olehnya mana?
Deretan pertanyaan itu kulemparkan secara tak sabaran pada Zigo yang dari tadi belagak cuek menyambutku datang dari luar kota.
“Ih, ini anak datang-datang udah cerewet nggak karuan. Sama siapa kesini? Kita nyampe sini semalam, si Ogi lagi tidur.
“Eits! Mau kemane dirimu? Jangan ganggu Ogi! Dia baru ketiduran. Zigo langsung mencegatku setelah mengetahui isi kepalaku yang akan langsung menghampiri Rogi yang sedang tidur di kamar.
“Suruh masuklah temanmu itu sayang. Suruhnya lagi.
“Eh, iya iya lupa! Pembelaanku setelah dicegat dan baru ingat pada mobil yang memberiku tumpangan tadi.
Aku kembali keluar rumah menghampiri mobil yang kutumpangi tadi dan menyuruh semua yang berada di mobil itu keluar dan menawarkan untuk masuki rumah. Mereka adalah teman satu komunitasku. Kami jalan-jalan keluar kota Padang dalam rangka memperingati hari jadi komunitas itu. Kebetulan rute pulang kami adalah daerah pantai Pariaman, jadi kuputuskan mengajak mereka mampir sebentar ke rumahku ini.
Setelah mempersilahkan teman-temanku masuk rumah, aku menggeledah isi ruangan yang berada di dalam rumah itu. Sampai daerah dapur, aku menghampiri ibuku yang dari tadi sibuk dengan masakannya.
Baru saja aku menyapa ibuku dengan wajah semangat, ibu langsung membalas sapaanku dengan menyodorkan gelas dan air untuk dibagikan pada tamu rumah ini. Dari situ aku mengerti, pasti ibu mau bilang “ntar aja kangen-kangenannya! Kasih minum temenmu, ibu lagi sibuk!”. Langsung aku membawa minuman tadi balik kanan tanpa kata-kata dan kubagikan pada teman-temanku.
Memang, ibuku tipe cewek tude point, tak suka neco-neco, cekatan tapi pengertian walau tak perhatian. Ibu bekerja sebagai kepala juru masak di warung nasi milik keluarga kami. Ampera sebutannya disini. Warung kami berada tepat di dekat pantai Pariaman. Konsumen warung itu adalah pengunjung pantai yang datang dari berbagai kota untuk sekedar menikmati pemandangan laut atau menyalurkan hobi, surfing.
Warung kami tak terlalu besar, jadi ibu ikut andil dalam menyediakan masakan dan melayani tamu walau ada beberapa pegawai lain yang ikut membantu. Jarak rumah dengan warung tak terlalu jauh, yang membatasi hanya stasiun kereta api. Jadi kami biasa “numpang lewat” di stasiun itu untuk pulang pergi dari warung ke rumah.
Aku biasa membantu ibu di warung bila musim libur tiba, walau sekedar jadi kasir. Dan abang-abangku pergi ke Pekanbaru untuk cari kerja sehabis 3 tahun tamat diploma mereka di kota Padang. Dan sekarang pun aku sedang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Padang semester 6. Bila tak pulang kampung, aku biasa berkegiatan di komunitas fotografi yang kumasuki sejak semester 2 lalu. Aku hobi fotografi tapi aku tak punya alat penyalur hobiku. Jadi datanglah kebaikan yang sangat jarang datangnya dari abang-abangku yang jail itu setahun aku kuliah. Mereka memberiku hadiah ulang tahun sebuah kamera SLR, wahh bahagia sekaleee…..hehe.
Bicara tentang abangku, 1 tahun terasa sangat lama untuk menunggu saat-saat berjumpa saudara yang pergi merantau untuk mengadu nasib. Meski mereka selalu pulang saat lebaranan dan acara mendadak lainnya. Sekarang pun entah dalam rangka apa mereka pulang. Memang, abangku kembar. Raut wajah jelek yang sama tapi sifat berbeda.
Kalau tadi Zigo bertipe cerewet, slengek an, gondrong dan jail berlebihan. Abang kembarku yang tertua bernama Rogi. Dia itu pendiam, dewasa, agak keras dan modis. Rambut bergaya spike, suka pakai kaca mata gaya, cool. Pokoknya bila ada cewek yang menatap mereka berdua, yang paling diincar adalah Rogi. Tampan, rapi dan seksi. Tapi bila mereka mendekati Ogi, jangan harap dapat perhatian lebih darinya. Cowok satu ini sangat kalem dan tak suka romantis-romantisan, tude point seperti ibuku. Tapi kalau cewek itu mendekati Zigo, wah mereka pasti cepat suka. Karena Igo tipe cowok romantis dan perhatian. Walau begitu, mereka sama-sama pecandu rokok. Bayangkan saja, ibu pernah mendapati rokok patah di saku celana SMP Rogi dan korek kayu di tas Zigo. Padahal mereka baru naik kelas 2 SMP. Wah wah wah….
Setelah minuman tadi kubagi pada teman-temanku. Aku langsung berlari ke kamar yang berisi orang lagi tidur pulas berselimut tebal. Daerah itu sedang musim hujan, jadi akan terasa sangat dingin disini sore hari.
Brak…!! Langsung aku mendarat dikasur empuk disamping Rogi yang sedang tidur pulas. Sontak beliau kaget dan melongo. Aku langsung pura-pura tak tahu dan melayangkan pertanyaan yang sama pada abangku yang tadi.
“Aku kangeeeen……!!
“Kapan pulang?
“Oleh-olehnya mana?
“Kok pulang?
“Ada acara apa?
Seperti biasa dan yang paling aku suka, omelan datar keluar dari mulut Rogi.
“Astagfirullah Genii…!! Kalau mau bikin kaget ngomong dulu lah…!!
“Kita semalam nyampenya, kagak ada oleh-oleh!! Kita pulang emang lagi liburan, g ada acara apa-apa. Puas sayang?? Nohh, keluar sana!! Abang baru tidur nih…
Haha, walau berujung pengusiran, tapi aku senang. Soalnya pengusiran terdengar manis sekali ditelingaku. Entah mengapa aku merasa sangat nyaman bila di dekat Rogi. Dia itu cuek tapi ketahuan banget lagi perhatiannya. Jadi aku selalu tertawa melihat tingkahnya yang amatiran dalam hal belagak cuek.
Dengan hati senang aku meninggalkan abangku itu yang sedang berusaha melanjutkan tidurnya yang terganggu karena ulahku. Malah aku tambah dengan cubitan geli pada kakinya yang tak tertutup selimut dan aku langsung membuang muka dengan berlari keluar kamar sambil tertawa puas. Entah apa isi celotehannya di dalam, aku tak terlalu dengar karena aku sudah keburu menyapa teman-temanku yang duduk rapi di ruang tamu.
Tepat jam setengah lima sore tamuku berpamitan pada ibu dan abangku untuk lanjutkan perjalanan pulang ke Padang. Tak ketinggalan aku, aku juga harus balik ke Padang karena besok masih ada perkuliahan. Kangen-kangenan dengan ibuku sudah cukup terobati, seperti biasa dia hanya pesan satu bila aku mau berangkat ke luar kota.
“Jan onggok yo nakk!! (jangan bego’-bodoh ya nak, minang). Satu kata mutiara bagiku yang cukup mewakili banyak nasehat yang biasa diberi orang tua di depan pintu rumah kepada anaknya yang akan pergi jauh. Dan aku menggangguk dan mencium tangannya dengan segala hormat. Lalu muncullah dua lelaki muda dari dalam rumah untuk menggodaku. Mencubit gemas kedua tanganku yang tak terlalu berdaging ini. Ternyata Rogi tak bisa melanjutkan tidurnya setelah kuganggu tadi (haha).
“Makk, sakiiitt…!! Aduanku pada ibuku.
“Sudah berangkat sana! Ntar kemaleman nyampe rumah di Padang, jawab ibuku.
Teman-temanku sudah berada di mobil semuanya, dan ikut tersenyum geli melihatku digoda abang-abangku yang bela-belain mengejar sampai aku masuk mobil.
Akhirnya, mobil yang aku tumpangi siap melaju dan melanjutkan perjalanan. Senang sekali bisa mampir, karena dalam 2 bulan ini aku pulang baru satu kali. Tapi sayang, ayah belum pulang melaut. Jadi aku tak sempat menunggu ayah pulang sebelum senja ini.
Ah, aku senang sekali punya mereka.

Next, part 2, soon.

Jangan Jadikan Aku Istrimu

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain.

Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatuhkan talak padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku.

Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.

Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku  tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku.

Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu

Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.

Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga.

Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.

Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.

Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.

Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana.

Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.

Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku.

[Penulis: Rina Tri Lestari]

I Love Us

Janji bertemu buat rindu terburu
Apa malam tak tahu? Bahwa aku perlu?
Menarik rahasia hati ke hati
Tak perlu menunggu
Jiwa sendu pantas dirayu

Lalu kemana warna angin?
Mengotori rapuhku dengan ingin
Asaku yang pudar kembali kelabu
Pekat, semakin pekat

Biarlah rahasia, aku tahu dia tahu
Tentang awan yang bertanya
Tentang angin yang menggoda
Tentang malam yang merusak suasana
Tak apa
Aku rela
Sebab aku cinta kita

#iloveus

Salah Kaprah #sampah

Gue ini bukan siapa-siapa, cuma sampah ringan yang diterbangkan angin bagi dia, iya dia, siapa aja deh. Diterbangin angin sampai ke Amerika, terbang ke Kanada, bahkan kemaren baru balik dari india. Kadang jadi sampah bagi seseorang itu ada enaknya, bisa jalan-jalan keliling dunia. Tapi itu tergantung arah angin.
Berhubung ini bulan anginnya lagi keceng ke Indonesia, gue balik lagi kesini, salah satu kota pelajar di pulau Sumatera.
Gue dibilang sampah secara langsung sih gak pernah, tapi lebih sering diperlakukan seperti itu.
Yang lebih nyakitin perasaan itu adalah diperlakukan seperti sampah sama orang-orang yang selama ini gue kasih label grup, Keluarga. Gila gak tuh.
Gue sih santai aja, gak peduli lagi mereka bicara apa yang menyudutkan gue. Gue cuma mau buktikan ke mereka kalau sampah mereka ini bisa didaur ulang dan menjadi sesuatu yang bernilai lebih dari emas permata yang mereka simpen dibawah kasur itu. *ehh #salahkaprah

Salah Kaprah #Jerawat

Kata orang, biar muka gak jerawatan, cuci lah muka sebelum dan bangun tidur, itu minimal, catet.
Berhubung kulit kepala gue kadang ada benjolan kecil seperti jerawat trus punggung gue juga kadang berjerawat dan bahkan telapak kaki gue pernah ada bintik-bintik merah, gue jadi punya kebiasaan baru akhir-akhir ini. Mencuci kepala, mencuci badan sampai telapak kaki sebelum tidur, alias mandi. Biar maksimal aja gitu, niatnya sih supaya jerawat-jerawat gue jadi berkurang.
Tak terkecuali bila rentang waktu gue tidur dan terbangun itu hanya berkisar 60 menit.
Jadi ceritanya gue mandi plus keramas lalu tidur, bangun-bangun masuk kamar mandi lagi buat mandi plus keramas lagi. Padahal itu rambut belum kering malah harus rela diguyur lagi.
Jangan-jangan yang ada bukannya jerawat gue ilang atau setidaknya berkurang, ini malah helaian rambut gue bentol-bentol kayak jerawat trus kena demam tinggi, pucet, kurusan dan berujung kematian, alias rontok. #salahkaprah

Via Twitter

Kaget tergirang-girang. Ya itu yang aku rasakan ketika terakhir kali memeriksa Hp menjelang tidur. Aku sengaja membuka salah satu akun sosial media yang aku punya untuk mengecek notifikasinya. Tak disangka deretan Mention baru aku dapati, bejibun. Salah satu yang bikin aku tambah girang adalah, Mention dari salah satu Akun Resmi sebuah acara Talkshow di Net.TV. Aku dinyatakan sebagai salah satu pemenang kuis malam yang sebelumnya aku tonton. Aku memang iseng-iseng ikutan dalam kuis ketika acara itu berlangsung, caranya mengirimkan ocehan via Twitter dengan Tema yang telah ditentukan. Aku mengirimkan satu ocehan yang berisi gombalan untuk salah satu bintang tamu disana @rizashahab. Ternyata gombalanku menarik perhatian admin ITnya, aku menjadi salah satu dari dua orang yang beruntung malam itu.
Yang buat aku senang bukan hadiah yang akan aku dapati. Tapi berupa tambahan follower twitterku yang buat aku senang. Norak memang ya, hihii mau gimana lagi, aku pemula di sosmed itu. Apalagi sejak aku bergabung pada tahun 2009 lalu, followerku tak lebih dari 100. Tapi sejak aku diMention oleh akun Talkshow itu, followerku bertambah 100, hehe. Lumayan, buat nambah gengsi. Soalnya yang aku tahu, banyaknya jumlah angka pada kotak follower di profil Twitter seseorang, mengisyaratkan betapa ngehitsnya orang tersebut (lebay). 😛 aku juga tak mau kalah, aku pengen punya banyak follower juga dong. Tapi yang aku rasakan itu, mencari follower adalah sesuatu yang ngeri-ngeri susah. Yang mengartikan aku masih belum ngehits dimata orang banyak 😀 haha, lah iya lah yaa. Twitter itu bagiku hanya untuk berkomunikasi dengan mantan kekasih dan beberapa teman dekat ketika bosan mengirim sms atau telfonan.
Okelah bagi yang mau bantu aku ngehits, silahkan follow aku via Twitter yaa, @morphaa mari bertemaaan 😀

Via Twitter

Kaget tergirang-girang. Ya itu yang aku rasakan ketika terakhir kali memeriksa Hp menjelang tidur. Aku sengaja membuka salah satu akun sosial media yang aku punya untuk mengecek notifikasinya. Tak disangka deretan Mention baru aku dapati, bejibun. Salah satu yang bikin aku tambah girang adalah, Mention dari salah satu Akun Resmi sebuah acara Talkshow di Net.TV. Aku dinyatakan sebagai salah satu pemenang kuis malam yang sebelumnya aku tonton. Aku memang iseng-iseng ikutan dalam kuis ketika acara itu berlangsung, caranya mengirimkan ocehan via Twitter dengan Tema yang telah ditentukan. Aku mengirimkan satu ocehan yang berisi gombalan untuk salah satu bintang tamu disana @rizashahab. Ternyata gombalanku menarik perhatian admin ITnya, aku menjadi salah satu dari dua orang yang beruntung malam itu.
Yang buat aku senang bukan hadiah yang akan aku dapati. Tapi berupa tambahan follower twitterku yang buat aku senang. Norak memang ya, hihii mau gimana lagi, aku pemula di sosmed itu. Apalagi sejak aku bergabung pada tahun 2009 lalu, followerku tak lebih dari 100. Tapi sejak aku diMention oleh akun Talkshow itu, followerku bertambah 100, hehe. Lumayan, buat nambah gengsi. Soalnya yang aku tahu, banyaknya jumlah angka pada kotak follower di profil Twitter seseorang, mengisyaratkan betapa ngehitsnya orang tersebut (lebay). 😛 aku juga tak mau kalah, aku pengen punya banyak follower juga dong. Tapi yang aku rasakan itu, mencari follower adalah sesuatu yang ngeri-ngeri susah. Yang mengartikan aku masih belum ngehits dimata orang banyak 😀 haha, lah iya lah yaa. Twitter itu bagiku hanya untuk berkomunikasi dengan mantan kekasih dan beberapa teman dekat ketika bosan mengirim sms atau telfonan.
Okelah bagi yang mau bantu aku ngehits, silahkan follow aku via Twitter yaa, @morphaa mari bertemaaan 😀