Road to novel #sikembar

1. Keluargaku

Sini…sini…sini…!!!
Setoop!!
Mobil yang aku tumpangi kusuruh berhenti. Tepat di depan sebuah rumah yang dikelilingi oleh bonsai yang tertata rapi mengesankan sebuah pagar yang cukup kokoh berwarna kuning cerah. Di halamannya terparkir satu buah mobil tua keluaran lama, catnya berwarna hitam penuh goresan, 1 motor matic yang dimodifikasi yang cukup menggambarkan bahwa empunya seorang yang cukup modis dan cukup gaul serta sebuah scooter hitam yang bisa menarik perhatian pengguna jalan bila dibawa konfoi seputaran jalan kota besar.
Rumah itu terkesan tua, bergaya lama tapi cukup keren. Rumah panggung yang dibikin lebih maju atau modern dari sebelumnya. Itu terlihat dari bagian depan rumah yang direnovasi dan di bagian belakang masih asli saat rumah itu dibangun pertama kali dengan kayu kualitas tinggi. Terkaanku, rumah itu punya empat kamar yang cukup luas untuk 3 orang anak dan sepasang orang tua serta punya dua jenis lantai. Di bahagian depan rumah, berlantai keramik yang senada dengan warna lantai kayu dari bahagian belakang rumah yang lama. Sejuk, pikirku.
Mobil yang kutumpangi parkir tepat di belakang 2 motor tadi. Dengan hati senang segera kuturuni mobil itu karena kutahu yang kucari pasti ketemu karena 2 motor itu adalah petunjuknya.
Tanpa pikir panjang segera kumasuki rumah itu dengan membaca salam. Yang sebelumnya sepatu kets yang ku pakai dibuka dulu dan menaiki 3 anak tangga. Kudapati seorang lelaki muda berparas tampan yang sedari tadi sudah menyadari akan datangnya tamu tak diundang ini, yaitu adik perempuannya.
“Bang igoooo! Teriakku pelan.
“Heh, ngapain kesini?
“Wew, jahat!! Teriakku manja.
Walau agak jengkel gara-gara ucapan selamat datang yang sangat menghujam jantung itu, sangat tak membuatku berpikir dua kali untuk memeluk lelaki itu dengan satu lompatan yang berujung pemaksaan.
“Aduuh, sesak nih!
Teriak lelaki itu dengan tampang tak terima dan mencoba melepas tanganku dengan sedikit meringis. Karena aku memeluk dengan sedikit bergantungan tepat dipundak dan lehernya. Itu karena dia jauh lebih tinggi diriku.
Dia lebih tua beberapa tahun dariku. Tepatnya ia berusia 28 tahun sekarang ini, dibulan ini. Dia adalah kakak laki-lakiku yang kedua, Zigo. Yang kutahu pribadinya cerewet, ceplas-ceplos, smart dan perokok berat.. Dengan rambut yang sedikit panjang diikat tak terlalu rapi, dapat menyembunyikan sifat cerewet dan smartnya. Berganti dengan kesan cool, pendiam dan pemalas. Tapi itu memang wajahnya, wajah tampan berhidung mancung yang dipunyai 2 orang di rumah ini.
“Yee, gitu aja sesak, gimana sih?
“Eh iya bang Ogi mana?
“Kapan pulang?
“Oleh-olehnya mana?
Deretan pertanyaan itu kulemparkan secara tak sabaran pada Zigo yang dari tadi belagak cuek menyambutku datang dari luar kota.
“Ih, ini anak datang-datang udah cerewet nggak karuan. Sama siapa kesini? Kita nyampe sini semalam, si Ogi lagi tidur.
“Eits! Mau kemane dirimu? Jangan ganggu Ogi! Dia baru ketiduran. Zigo langsung mencegatku setelah mengetahui isi kepalaku yang akan langsung menghampiri Rogi yang sedang tidur di kamar.
“Suruh masuklah temanmu itu sayang. Suruhnya lagi.
“Eh, iya iya lupa! Pembelaanku setelah dicegat dan baru ingat pada mobil yang memberiku tumpangan tadi.
Aku kembali keluar rumah menghampiri mobil yang kutumpangi tadi dan menyuruh semua yang berada di mobil itu keluar dan menawarkan untuk masuki rumah. Mereka adalah teman satu komunitasku. Kami jalan-jalan keluar kota Padang dalam rangka memperingati hari jadi komunitas itu. Kebetulan rute pulang kami adalah daerah pantai Pariaman, jadi kuputuskan mengajak mereka mampir sebentar ke rumahku ini.
Setelah mempersilahkan teman-temanku masuk rumah, aku menggeledah isi ruangan yang berada di dalam rumah itu. Sampai daerah dapur, aku menghampiri ibuku yang dari tadi sibuk dengan masakannya.
Baru saja aku menyapa ibuku dengan wajah semangat, ibu langsung membalas sapaanku dengan menyodorkan gelas dan air untuk dibagikan pada tamu rumah ini. Dari situ aku mengerti, pasti ibu mau bilang “ntar aja kangen-kangenannya! Kasih minum temenmu, ibu lagi sibuk!”. Langsung aku membawa minuman tadi balik kanan tanpa kata-kata dan kubagikan pada teman-temanku.
Memang, ibuku tipe cewek tude point, tak suka neco-neco, cekatan tapi pengertian walau tak perhatian. Ibu bekerja sebagai kepala juru masak di warung nasi milik keluarga kami. Ampera sebutannya disini. Warung kami berada tepat di dekat pantai Pariaman. Konsumen warung itu adalah pengunjung pantai yang datang dari berbagai kota untuk sekedar menikmati pemandangan laut atau menyalurkan hobi, surfing.
Warung kami tak terlalu besar, jadi ibu ikut andil dalam menyediakan masakan dan melayani tamu walau ada beberapa pegawai lain yang ikut membantu. Jarak rumah dengan warung tak terlalu jauh, yang membatasi hanya stasiun kereta api. Jadi kami biasa “numpang lewat” di stasiun itu untuk pulang pergi dari warung ke rumah.
Aku biasa membantu ibu di warung bila musim libur tiba, walau sekedar jadi kasir. Dan abang-abangku pergi ke Pekanbaru untuk cari kerja sehabis 3 tahun tamat diploma mereka di kota Padang. Dan sekarang pun aku sedang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri di Padang semester 6. Bila tak pulang kampung, aku biasa berkegiatan di komunitas fotografi yang kumasuki sejak semester 2 lalu. Aku hobi fotografi tapi aku tak punya alat penyalur hobiku. Jadi datanglah kebaikan yang sangat jarang datangnya dari abang-abangku yang jail itu setahun aku kuliah. Mereka memberiku hadiah ulang tahun sebuah kamera SLR, wahh bahagia sekaleee…..hehe.
Bicara tentang abangku, 1 tahun terasa sangat lama untuk menunggu saat-saat berjumpa saudara yang pergi merantau untuk mengadu nasib. Meski mereka selalu pulang saat lebaranan dan acara mendadak lainnya. Sekarang pun entah dalam rangka apa mereka pulang. Memang, abangku kembar. Raut wajah jelek yang sama tapi sifat berbeda.
Kalau tadi Zigo bertipe cerewet, slengek an, gondrong dan jail berlebihan. Abang kembarku yang tertua bernama Rogi. Dia itu pendiam, dewasa, agak keras dan modis. Rambut bergaya spike, suka pakai kaca mata gaya, cool. Pokoknya bila ada cewek yang menatap mereka berdua, yang paling diincar adalah Rogi. Tampan, rapi dan seksi. Tapi bila mereka mendekati Ogi, jangan harap dapat perhatian lebih darinya. Cowok satu ini sangat kalem dan tak suka romantis-romantisan, tude point seperti ibuku. Tapi kalau cewek itu mendekati Zigo, wah mereka pasti cepat suka. Karena Igo tipe cowok romantis dan perhatian. Walau begitu, mereka sama-sama pecandu rokok. Bayangkan saja, ibu pernah mendapati rokok patah di saku celana SMP Rogi dan korek kayu di tas Zigo. Padahal mereka baru naik kelas 2 SMP. Wah wah wah….
Setelah minuman tadi kubagi pada teman-temanku. Aku langsung berlari ke kamar yang berisi orang lagi tidur pulas berselimut tebal. Daerah itu sedang musim hujan, jadi akan terasa sangat dingin disini sore hari.
Brak…!! Langsung aku mendarat dikasur empuk disamping Rogi yang sedang tidur pulas. Sontak beliau kaget dan melongo. Aku langsung pura-pura tak tahu dan melayangkan pertanyaan yang sama pada abangku yang tadi.
“Aku kangeeeen……!!
“Kapan pulang?
“Oleh-olehnya mana?
“Kok pulang?
“Ada acara apa?
Seperti biasa dan yang paling aku suka, omelan datar keluar dari mulut Rogi.
“Astagfirullah Genii…!! Kalau mau bikin kaget ngomong dulu lah…!!
“Kita semalam nyampenya, kagak ada oleh-oleh!! Kita pulang emang lagi liburan, g ada acara apa-apa. Puas sayang?? Nohh, keluar sana!! Abang baru tidur nih…
Haha, walau berujung pengusiran, tapi aku senang. Soalnya pengusiran terdengar manis sekali ditelingaku. Entah mengapa aku merasa sangat nyaman bila di dekat Rogi. Dia itu cuek tapi ketahuan banget lagi perhatiannya. Jadi aku selalu tertawa melihat tingkahnya yang amatiran dalam hal belagak cuek.
Dengan hati senang aku meninggalkan abangku itu yang sedang berusaha melanjutkan tidurnya yang terganggu karena ulahku. Malah aku tambah dengan cubitan geli pada kakinya yang tak tertutup selimut dan aku langsung membuang muka dengan berlari keluar kamar sambil tertawa puas. Entah apa isi celotehannya di dalam, aku tak terlalu dengar karena aku sudah keburu menyapa teman-temanku yang duduk rapi di ruang tamu.
Tepat jam setengah lima sore tamuku berpamitan pada ibu dan abangku untuk lanjutkan perjalanan pulang ke Padang. Tak ketinggalan aku, aku juga harus balik ke Padang karena besok masih ada perkuliahan. Kangen-kangenan dengan ibuku sudah cukup terobati, seperti biasa dia hanya pesan satu bila aku mau berangkat ke luar kota.
“Jan onggok yo nakk!! (jangan bego’-bodoh ya nak, minang). Satu kata mutiara bagiku yang cukup mewakili banyak nasehat yang biasa diberi orang tua di depan pintu rumah kepada anaknya yang akan pergi jauh. Dan aku menggangguk dan mencium tangannya dengan segala hormat. Lalu muncullah dua lelaki muda dari dalam rumah untuk menggodaku. Mencubit gemas kedua tanganku yang tak terlalu berdaging ini. Ternyata Rogi tak bisa melanjutkan tidurnya setelah kuganggu tadi (haha).
“Makk, sakiiitt…!! Aduanku pada ibuku.
“Sudah berangkat sana! Ntar kemaleman nyampe rumah di Padang, jawab ibuku.
Teman-temanku sudah berada di mobil semuanya, dan ikut tersenyum geli melihatku digoda abang-abangku yang bela-belain mengejar sampai aku masuk mobil.
Akhirnya, mobil yang aku tumpangi siap melaju dan melanjutkan perjalanan. Senang sekali bisa mampir, karena dalam 2 bulan ini aku pulang baru satu kali. Tapi sayang, ayah belum pulang melaut. Jadi aku tak sempat menunggu ayah pulang sebelum senja ini.
Ah, aku senang sekali punya mereka.

Next, part 2, soon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s