Untuk Sahabat Pena

Dear Sahabat Penaku

Di

Pulau khayalan, Jawa.

Salam akrab sahabat,

Sudah lama sekali sejak suratku sebelum ini kita berkomunikasi, maaf aku terlalu sibuk bekerja. Kamu tahu bukan, hidup di beberapa tahun terakhir ini agak sedikit sulit, semoga kamu disana bisa sukses dan tentunya sehat jiwa raga.

Seperti biasa, aku menulis surat ini sekedar berbagi perasaaan padamu teman. Sudah bertahun kita berbalas surat seperti ini, dan kamu tahu, aku sangat suka berbagi denganmu. Menuliskan beberapa kejadian, perasaan, kesenangan, dan kesedihan.

Dan akhirya aku tak sabar ingin bercerita padamu, aku mulai saja ya.

Ahh, sahabatku. Pertemanan di jaman saat sekarang sangat mudah, amat sangat mudah. Seiring teknologi dari gadget terbaru yang bersaing satu sama lain. Hal ini didukung hebat oleh beberapa aplikasi di dalamnya, salah satunya Sosial Media. Tempat berteman di dunia maya. (tapi kita sengaja tidak berteman di dunia itu agar surat menyurat ini tetap seru, aku lebih suka seperti ini).

Aku, seperti yang kamu tahu seorang gadis usia seperempat abad ini pun tak kalah tertarik pada gadget dan aplikasi-aplikasi menarik di dalamnya. Aku suka berteman di berbagai sosmed yang ada saat ini, semua bisa kubagi termasuk dengan teman lama dan teman baru tentunya. Aku memang tipe orang suka berteman, semua bisa kujadikan teman. Baru bertemupun kalau ada yang ajak bicara akan aku ladeni dengan baik, tentu bagi yang ingin mengobrol dengan baik saja yang akan aku layani dan pastinya dengan batas-batas tertentu. Pertemanan baru pun bila ada yang ingin dilanjutkan lewat media sosmed pun akan aku terima, sebatas teman atau tambahan relasi lewat pesan atau chatting apa salahnya, bukan?

Apa kau tahu, teman? Sepertinya untuk saat sekarang aku hanya bisa sekedar tertarik saja dengan yang namanya gadget terbaru bin canggih keluaran tahun ini. Walau aku sudah mati-matian berhemat uang jajan demi mendapatkan salah satu teknologi itu, aku terpaksa menghapus keinginanku dengan berat hati. Uang jajan yang aku tabung cicil lewat arisan itu akhirnya kuputuskan untuk beli perhiasan saja. Bisa menabung sambil berhias. Lumayan untuk modal usahaku kelak. Modal menikah? Sempat terpikir sih, tapi tidak usahlah. Biar calon suamiku saja yang memikirkan modal menikah kami. Aku ingin pre wedding di pantai, nikahan di kampung halaman, resepsi di gedung, bulan madu di Korea, tinggal dan mengasuh anak di rumah baru di pulau jawa, tidak usah kerja. Wah pasti menyenangkan sekali menjadi wanita seberuntung itu, bukan? Pasti dirimu juga berfikir sama denganku. Haha, biasalah kita sesama wanita ingin dapat bersihnya saja.

Wah temanku, aku bisa menabung perbulan saja itu sudah sangat sukses, mengingat gaji seorang guru honorer tidak sebanyak gaji karyawan pabrik yang mencapai UMR tahun ini, beban pekerjaanku saat ini bisa digolongkan sama dengan karyawan pabrik. Sulit-sulit bergembira dengan upah seadanya.

Bicara tentang alasan aku menghapus harapanku untuk memiliki salah satu gadget (smart phone) itu diawali dengan masalah sepele dengan kekasihku yaitunya “aku punya banyak kenalan baru”.

Sepele bukan teman? Sudah aku tekankan tadi, bahwa aku bisa berteman dengan siapa saja, dimana saja, kapan saja. Dan aku akan meladeni pertemanan dengan standar-standar saja. Tapi sayang, kekasihku tidak mau mengerti. Aku paham dia cemburu, tapi layakkah yang dicemburui itu termasuk sepupuku juga? Kami satu suku dikaumku, yang punya aturan adat tidak boleh menikah satu pesukuan. Nah, sudah dipastikan aku takkan ada apa-apa dengannya, bukan?.

Entahlah, kalau diperpanjang-panjang lagi, tak ada habisnya, yang penting aku saat ini sedang galau tidak jelas gitu (hohoo). Disamping itu aku menemukan sisi terburuk kekasihku yang tidak bisa melindungiku dan menghargai aku sebagai kekasihnya. Seenaknya sendiri, punya aturan sendiri. Dan tidak salahku kalau aku sudah membayangkan betapa sempitnya hidupku. Hanya Allah yang tahu.

Sekarang aku bekerja dengan separuh hati, ingin keluar dari pekerjaanku sebagai guru honorer, aku belum punya batu loncatan setelah keluar dari pekerjaan ini. Disamping itu aku tetap mencari pekerjaan lain yang lebih cocok dengan kebutuhan dan ilmuku. Target menikahku aku urung jauh lagi. Aku benar-benar putus asa kalau mengingat bila aku sampai melangkah ke jenjang selanjutnya, menikah.

Oh ya teman, selamat atas pekerjaan barumu sebagai wakil direktur di perusahaanmu itu. Semoga sukses teman. Aku turut berdoa untukmu. Dulu kau pernah bilang padaku kalau garis takdir kita berbeda-beda setiap manusia, kau benar. Aku galau bukan temasuk menyalahkan Tuhanku, tapi aku menyalahkan diriku sendiri yang belum bisa bersikap seharusnya. Mungkin ini cara Tuhanku mengajarkan aku untuk lebih membuka mata dalam segala hal yang terjadi, dan aku akan berusaha lebih baik lagi, aku janji.

Baiklah teman, itu sedikit curahan hatiku saat ini, aku harap kau berkenan membacanya dan memberiku nasehat sebagai teman. Dan Selamat Natal yaa…

Salam Hangat

Kawan lama

2013, morpha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s