Tanya bertanya-tanya

Tiba-tiba terdengar suara memekakkan telinga dari seberang sana.

Dan…. Tut tut tut tut… Terputus…

Setengah jam sebelumnya aku berhasil, tapi selanjutnya keningku berkerut dan ada tambahan pekerjaan di otakku. Aku teringat si penelepon paksa tadi. Yang memaksaku membenarkan panggilannya, Kevin. Siapa Kevin?? Siapa yang meneleponku tadi??

“Ahh, sudahlah. Toh beneran salah sambung dianya. Ucapku sambil terus menggenggam ponselku.

Alat rabaku tak sehebat otakku, dimana setelah setengah jam berlalu aku mencoba membolak-balikan ponselku dan memukul-mukulkannya ke telapak tangan tapi tak ada hasil. Dan memang secara teori tak akan pernah berhasil teknik seperti itu. Sedang otakku sibuk menganalisa, kesialan apa lagi selanjutnya untuk hari ini.

Pesan masuk di ponselku sepertinya benar-benar harus sabar bertumpuk. Dan akhirnya aku menyerah, tak apa lah, mungkin screen reader ponselku memang layak untuk cuti. Mengingat akhir-akhir ini dia sibuk karenaku. Menemani kesibukanku menyombongkan diri atas penolakan kata-kata, “mata jendela dunia”.

”Tuk tuk prang….!!”.

”Meooong….”

”Aduuuuh….!!”

Ada keributan di atas, pikirku. Bergegas aku meraba dinding dan mulai menaiki beberapa anak tangga setengah perjalanan ke lantai dua rumah ini. Sepertinya jawaban dari pertanyaan di pikiranku tadi terjawab seketika. Aku sudah berada di dapur saat aku menjumpai makanan berkuah yang baru disalinkan ke mangkuk beberapa menit yang lalu oleh adikku berserakkan ke lantai, bercampur pecahan mangkuk yang terasa masih panas dan itu ku tahu dari mulut adik perempuanku yang terdengar kesal.

”Aduh Aniiis…! ucapnya semi teriak.

“Makanya jangan rakus, tuh lihat, tumpah kan jadinya”.

Aku membantu menegur si Manis kucing kesayanganku sambil mendengar adikku mengumpulkan tumpahan gulai pucuak ubi (daun singkong) bercampur ikan Teri serta beberapa pecahan kaca dari lantai. Itulah sayur yang dibuat oleh adikku diniatkan untuk melengkapi menu berbuka puasa kami hari ini.

Hari ini adalah hari ke tujuh di bulan Ramadhan. Dimana tahun ke dua puluh delapan aku menghirup nafas ke dunia yang penuh warna dan tahun ke tiga duniaku meredup, gelap. Ini juga tahun ke lima aku ditinggalkan ibu kandungku. Dan tahun ke tiga aku ditinggal Ayah.

Aku hidup berdua dengan saudariku di sebuah rumah permanen yang mempunyai dua lantai, tepatnya dua setengah lantai. Dipertengahan antara lantai satu dan dua ada sebuah ruang yang terletak disebelah belakang rumah dimana disanalah si Manis bikin onar yang aku sebut dengan dapur. Tepatnya, dapur terletak ”menggantung” antara bagian belakang lantai satu dan dua.

Ayah sengaja meletakkan dapur disana, agar kami bisa melihat lantai sebagian dari lantai satu dan sebagian lantai dua dalam satu posisi berdiri. Tapi ternyata aku tak bisa berlama-lama menikmati pemandangan itu. Cukup dua tahun setelah rumah ini selesai direnovasi dan indra penglihatanku tak berfungsi. Rumahku tak besar, tak juga kecil. Tak kecil karena aku tinggal berdua disini. Lumayan kecil bila kami masih lengkap dan ketika aku berkeluarga nanti mempunyai empat orang anak.

”Ups, sepertinya tidak, aku tak akan berkeluarga sebelum aku jatuh cinta bukan? Dan sepertinya tidak akan pernah ketika kalian mengingat perkataanku sebelumnya. Aku tak akan jatuh cinta. Selamanya.

Waktu menunjukkan jam setengah enam sore saat adikku selesai membereskan dapur setelah insiden kreasi si Manis. Kami siap menantikan bedug tanda ijin untuk berbuka puasa. Menu sederhana dan cukup untuk kami sampai nanti untuk sahur esok pagi. Ahh, bagaimana aku bisa hidup bila tanpa saudariku yang satu itu.

Untuk biaya hidupku sehari-hari aku sudah cukup bersyukur mendapat penghasilan sebagai pemilik rumah makan Padang yang baru berkembang. Sebagai sarjana ilmu komunikasi, aku terlihat sangat banting stir jadi toke kuliner (juragan) tapi itulah pekerjaan sampingan yang bisa aku kembangkan di duniaku yang super gelap seperti ini. Dan sudah pasti saudariku juga ikut andil dipekerjaan ini.

Pekerjaan tetapku, aku bekerja sebagai penulis tetap pada sebuah majalah lokal dan berada pada kolom ’remaja’. Tulisanku Cuma sekedar fiksi remaja, puisi dan cerpen. Dengan bantuan seseorang teman yang mau menjadi penolongku layaknya asistenku, yang menuliskan apa yang aku katakan, dan membacakan apa yang aku harus tahu dari media cetak. Ya, persis seperti screen readerku yang sedang cuti itu. Penolong sejati yang juga butuh cuti.

Kudapati si Manis sudah duduk manis di bawah kursi tempat aku biasa duduk untuk menyantap makanan. Dengan manja ia menggosok-gosokkan kepalanya di kakiku saat aku baru mendarat di kursi makanku. Setelah berdoa, aku dan adikku menyantap makanan itu dengan penuh rasa syukur. Walau sayur yang tadinya berupa gulai pucuak ubi diganti adikku dengan beberapa potong mentimun sebagai pelengkap menú berbuka sore ini. Alhamdulillah.

Walau hidupku terlihat senang dan tentram, sebenarnya jiwaku di dalam sangat rapuh. Aku sering kecolongan kehilangan iman saat iri membelenggu di hati. Melihat semua orang bahagia dengan keluarganya. Ada ayah, ibu kakak dan adik serta punya dunia yang penuh warna. Aku seperti sudah tak tahu rasa syukur lagi. Aku terpenjara sendiri dengan sifat jelekku itu. Padahal aku punya saudari perempuan yang terakhir kali kulihat sangat cantik sebelum aku keluar rumah dengan ayah tiga tahun lalu dan mengalami kecelakaan serius itu.

Untuk menghindari keterpurukanku yang sangat dalam atas kehilangan indra terpenting itu, adikku dan  teman-teman yang iba kepadaku menghadiahi sebuah kesibukkan. Sebagai lanjutan dari potensi yang aku punya sejak SMP, menulis. Aku dikenalkan pada profesi penulis di sebuah majalah lokal, sebagai wadah pengungkap perasaanku.

Malam ini ponselku berdering lagi. Dan sama lantangnya dengan sore tadi.

”Kriiiing…..”

Ku coba mendengar dengan seksama screen readerku membacakan siapa yang menelepon. Tapi yang ada hanya suara kring yang sama, semakin ribut malah.

”Wahh, masih tak berfungsi”, pikirku.

Ku coba menjawab panggilan si pelenelepon itu.

”Ya Halo…?? sapaku.

”Keviiiiiiiin, kamu jahat…!!”. Suara yang sama tapi tuduhan yang meningkat dan memburuk dari siang tadi.

”Oh. Maaf mba… saya bukan Kevin. Saya Marvin. Mba salah orang…” ucapku menyamai kecepatannya bicara tadi siang. Aku sedikit merasa menang dan agak lega karena berhasil mendahuluinya bicara.

Entah si penelpon ini tak dengar atau tak mengerti bahasa indonesiaku atau apa. Dia malah menangis seperti mau curhat. Dan bersikukuh kalau aku Kevin yang sedang jahat kepadanya.

”Kevin, dengarkan aku. Aku………..

November 2012, morpha

(sambungan bebas dari suatu Cerpen dan dibuat agar bisa disambung lagi oleh penulis lain)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s