Menunggu Rindu

Menunggu rindu

Plak…Plak…

Rasa lega dan puas menghampiriku. Setelah berhasil memburu seekor nyamuk yang sejak tadi menggangguku. Aku sedang menikmati makan malam sambil nonton TV malam ini di rumah kakak sepupuku yang kini jadi orang tuaku.

Seekor nyamuk yang entah darimana asalnya, sejak dua hari ini bersarang di rumahku ini. Memang belakangan ini hujan kerap turun dan membasahi rerumputan di sekeliling rumah dan suasana lembab pun tak terelakkan.

Segera kubuang bangkai nyamuk yang menjadi piala kemenanganku malam ini. Bergegas kuayunkan kaki menuju dapur untuk mencuci tangan. Yah, selain karena sehabis membunuh nyamuk, aku juga telah selesai makan. Dapur yang berjarak sekitar 10 m dari ruang santai alias tempat menonton TV alias tempat favoritku untuk menyantap makan malam cukup menyimpulkan sebuah rumah yang cukup luas.

Kembali lagi ke ruang santai, dengan perut kenyang aku kembali ke posisiku tadi, depan televisi. Tapi bukan berarti aku nonton TV. Aku lebih senang bolak balik koran dan majalah daripada nonton TV. Dan itu terjadi saat tayangannya menampilkan acara Gajebo (nggak jelas bo’) atau drama-drama yang terlalu didramatisir.

Seperti sinetron. Sinetron yang malam ini berlaga di satu-satunya televisi di rumah ini. Yang tayang setiap sore menjelang malam, yang ditonton sambil kejar-kejaran dengan waktu untuk melaksanakan shalat maghrib.

“Mika…!! Buruan shalat…!!!”

“Udah jam berapa nih!?” Emakku mengingatkan saat kakakku asyik menonton.

“Iya, iya…bentar, nunggu iklan dulu yaa. Nanggung nih, lagi seru-serunya…!!”

Pemandangan yang amat sangat begitu tidak mendidik! Apalagi sinetron anak yang mengajarkan anak kecurangan mengajarkan kekerasan, keberanian yang berlebihan (berbuat nekat).

Yap…!! Balik lagi ke aku-nya.

Aku yang sudah bosan, males atau apalah sama yang namanya sinetron atau reality show tidak jelas masih membaca apa yang bisa kubaca tak terkecuali majalah yang isinya gossip semua, koran yang isinya perang semua, novel yang ceritanya cinta semua, dan yang terakhir HP.

Iya, maksudnya sms yang ada dan bakal ada di dalamnya. Karena aku membaca majalah sambil ngobrol dengan seseorang lewat sms (pesan singkat). Sebuah benda kecil pemberian kakakku yang membuatku merasa tak sendirian saat sepi. Benda yang membuatku selalu senang setiap saat karena isi pesan di dalamnya yang dapat melancarkan peredaran darah di otakku dengan cepat dan ajaib. Aku menyayanginya…

Bip…Bip…Biiip…!!

Sebuah pesan untuk kesekian kalinya mendarat di HP ku.

“Assalamualaikum,,,

Sedang apa ja,?

Ganggu nggak nih,,

Sender : Marvin (+6281363330xx….)

Deg…!!

Hah, bang Avin?? Kagetku yang sedikit ikut mengagetkan ibu dan kakakku yang lagi serius menonton sinetron favoritnya.

Kukira masih dari teman kampusku tadi yang marah-marah karena aku lupa kembalikan flasdishnya.

“Waalaikumsalam,,,

Sedang santai nih, Baca2…

Bagaimana kabar Bang,?

Kok tumbenan,?

                                        Send to : Marvin

Bip…Bip…Biiip!!

“Iya nhi…Abang lagi di kampung…

Besok ketemuan yuk…

Kangen nih, apa nggak kangen sama abangmu yang ganteng ini,??

he…he..

Sender : Marvin

“-.- hmm…boleh boleh. Dimana?

Send to : Marvin

Bip…Bip..Biip!!

“Di rumahmu saja.

Besok sore aku ke sana yah….

Sender : Marvin

Hah, Marvin. Seorang teman lama yang sudah lama tak ku dengar kabar beritanya, sejak dua tahun lalu. Dia bukan teman SD, SMP atau SMA tapi dia seorang teman yang kudambakan jadi sahabat yang selalu ada dalam hidupku.

Saat itu terakhir kulihat dia sedang risau dan kacau. Dari Marvin yang kukenal cerewet, jahil dan kocak. Berubah jadi Marvin jadi-jadian, yah semuanya berubah. Dia jadi pendiman, uring-uringan dan melamun seperti orang kena PHK yang masih menanggung 4 orang anggota keluarga yang menanti di rumah.

Jika kutanya mengapa, dia tetap diam. Saat itu kami menghadiri acara pernikahan kakak temannya Marvin, Regi. Akupun menghadirinya karena paksaan dari Marvin dengan berbagai alasan, tapi kali ini…

“Nggak enak sama Regi, udah janji nih sama Regi mau bawa kamu, ikut yah..yah..yaaa…!!”. Di tambah dengan raut wajah memelas jurus pamungkasnya yang dilayangkan kepadaku.

Dengan alis berkerut tak teratur aku mengalah…

“Yah…okelah!!

Saat di pesta dia agak aneh, tak seperti biasanya. Tapi gokil dan gilanya tetap ada saat bernyanyi asal-asalan disudut grup musik pada pesta itu. Tapi kulihat agak lain. Seperti senang dibuat-buat atau malah senang-senang untuk melampiaskan sesuatu.

Kupaksakan hatiku untuk sabar setelah 3 hari berturut-turut Marvin bersikap diam dan linglung seperti itu. Masa jumpa kami berkurang. Jumlah sms-an kami menurun drastis dan itu pun terasa dingin. Ingin rasanya kutanya langsung, ya walau dengan gurauan, entah mengapa aku takut, perasaanku tak enak, aku takut dia tersinggung dan marah. Jadi kurelakan waktu bersabarku berjalan tanpa ujung. Biarlah kutunggu dia yang cerita.

Sampai dia menghilang tanpa jejak, benar-benar tak ada jejak…

Bip, Bip, Biiip…!! HP ku bunyi lagi, buyarkan lamunanku.

“Hei…hei…!!

Gimana? Boleh nggak nih??

Sender : Marvin

“Hooh, iyaa…

Bole boleh,,

Ditunggu yaa…

Send to : Marvin

Hhmm…Marvin…Marvin..

2 tahun waktu yang cukup untuk memanglingkan diri dari seorang teman yang tak punya sopan santun seperti dia. Dia yang pergi begitu saja dari kehidupanku tanpa salam, sapa ataupun kata. Ketika kupaksa temannya untuk beri tahu, katanya Marvin pindah ke luar kota bersama Ibu dan adiknya. Kucoba mencari ke rumahnya kudapati rumahnya kosong dan tampaknya sedang diperbaiki, dan kucoba tanya pada pekerja di sana, rumah Marvin sudah dijual dan akan ditempati orang lain.

Deg…!

Saat itu langsung saja telingaku berdengung, jantungku berdegub kencang.

Dia pergi…Jahat!!!

Beraninya dia pergi tanpa bilang padaku. Kucoba berkali-kali menelepon dan kirim pesan padanya tapi nomornya tidak aktif. Ingin marah, kecewa, kesal semua bercampur di dadaku, aku tak enak hati. Sahabat, teman, abang terbaikku telah pergi.

Seiring waktu 2 tahun dia kembali, masih dengan nomer favoritku di deretan nomer-nomer di HP ku. Dan besok kami akan jumpa setelah waktu yang lama tak bersua. Hati bimbangku menunggu sesuatu darinya, cerita…

“Heh, Piak!! (sapaan pada anak perempuan)

Buruan tidur, udah jam berapa nih?? Bengong aja dari tadi…

Makku mengagetkanku dari lamunan tentang masa laluku yang membingungkan.

“Hhmm…semuanya akan jelas besok sore, harapanku…

Dengan hati senang ku beranjak dari tempat duduk ku sejak tadi. Bergegas kurapikan kembali majalah yang terbuka lebar di pangkuanku yang tak sempat kubaca tadi. Dan langsung ke kamar melakukan beberapa aktivitas sebelum tidur.

—————————————————

Besoknya,

♪ dalam benakku lama tertanam berjuta bayangan dirimu…

redup terasa….

Marvin calling….

– Klik!!! Halo…

“Ya halo, Assalamu’alaikum Ja?

– Hmm, yah?? Wa’alaikumsalam….

“Belum bangun ya?? Ya ela…udah pagi Ja!!

Bangun gih!! Shalat subuhnya belum tuh!!!

– Hmm?/ Eh, iya, iya deh..

“…??

– Eh iyaa… shalat subuh iya…

“Gitu donk..duduklah, baru ngomong…

– Hmm…??

“Tu kaan??

Kupaksakan badanku untuk duduk dengan proses loading yang baru mencapai angka 65%.

– Apa?? Iya iya shalat…

“Nah gitu kek dari tadi. Ntar sore jadikan?

– Iya…

“Itu aja, bangun gih!! Mandi, gosok gigi… Bau tuh, ha ha

– Yee… Biarin…

“Hehe, iya deh, sampai ketemu nanti sore yaa..

Daah…Assalamu’alaikum

– Ya…daah, wa’alaikum salam

Huh, kembali kubaringkan tubuhku, masa konek yang mencapai 75% masih kulewati di dalam kamarku yang tak begitu besar bernuansa krem merah tua. Dengan tak banyak pernak pernik, masih lumayan untuk cewek badung seperti diriku. Aku memang tak suka yang neco-neco alias ribet untuk diriku.

Masih terbayang olehku sahabat lamaku yang menghilang 2 tahun ini, dia kembali. Butuh satu ruang untukkku ceritakan tentang dirinya.

Pagi ini, aku berencana untuk ziarah ke makam ibuku, 5 bulan sudah dia pergi, meninggalkan duka di hati. Banyak kesanku untuknya tapi ya sudahlah, tak baik aku mengganggu tidurnya yang damai. Doaku hanya untuknya (Ibu).

Kembali dari pemakaman Ibu aku langsung ke pasar, beli sesuatu yang bisa dimakan untuk santai alias cemilan. Stok cemilanku habis…hoho.

Siang itu matahari sangat terik yang cukup mampu membuat seluruh jagad raya mengeluh pelan tapi pasti…gerah!!

—————————————————–

Nih pak, ongkosnya. Kusodorkan uang kertas lima ribu rupiah kepada sopir angkotnya. Dan ada kembaliannya dua ribu rupiah. Aku lalu meninggalkan angkot Jurusan TPU Damar – Pasar (Pusat kota). Yah, upah tiga ribu rupiah untuk jasa angkutan berjarak ± 2 km memang tergolong mahal. Tapi mau gimana lagi segalanya serba mahal walau harga BBM di negaraku telah diturunkan. Pemerintah merencanakan penurunan ongkos angkot, hasilnya terjadi pro dan kontra dimana-mana. Para supir mogok kerja, mereka menyayangkan peraturan pemerintah atas penurunan ongkos.

Mereka beralasan, “Yang turun kan cuma harga BBM, emang harga beras turun? Emang rokok murah? Emang sembako nggak mahal? Yah omelan demi omelan santer terdengar dimana-mana, khususnya Pak Sopir angkot tumpanganku.

Setelah membeli beberapa keperluan, aku kembali pulang. Sesampai di rumah aku mulai berkemas untuk persiapan kembali ke kota Padang tempat aku kuliah. Karena besok sore aku balik ke kota setelah habiskan akhir minggu di kampung. Dan seninnya hari pertamaku ujian semester ganjil. Ujian bagiku bukan hal yang menakutkan (bukannya aku sok pintar yaa). Malah hal yang menakutkan bagiku adalah hari pertama kuliah dengan mata kuliah yang baru.

Heh….aneh! aku pun tak tahu mengapa begitu. Bagaimana aku bisa jelaskan pada kalian yah. Maklum ajalah! Okeh?!

Waktu pun berlalu, waktu di rumahku menunjukkan jam 14.10 saat bel di rumahku berbunyi.

♪ neng….nong…neng…nong!!! neng noooong!!

Haduhh ngebet banget tu orang, mencetnya kayak mau nagih utang aja.

Seraut wajah tampan dengan senyuman manis yang kukenal baik jauh sebelumnya menatapku penuh tanya saat kubukakan pintu. Ternyata dia adalah sahabat/abang yang tak sopan yang dulu pergi meninggalkan segores luka sejak 2 tahun yang lalu… Marvin.

“Eh, hai Oja….Assalamu’alaikum…

“E, hei!! Wa’alaikumsalam…

Tangan kanannya diulurkan padaku agak terlambat, kami pun berjabat dan kurasa, dingin.

“Gimana kabar nih? Tambah manis ajah…

“Ih, dasar!! Mulai deh..

Masih mau nongkrong disitu? Yuk masuk!! Ajakku.

“Nggak ah diluar aja biar asik.

Akhirnya kami hanya duduk di teras rumah saja. Kami mulai perbincangan dengan saling tanya kabar. Perasaanku campur aduk saat itu. Ingin rasanya ku keluarkan pertanyaan mendasar lukaku sampai saat ini. Mengapa? Tapi ku hanya coba menunggu.

Oya, kok tumben nongol sekarang, orang jauh yaa sekarang!! Hehe. Kucoba memancingnya dengan candaan. Dan berhasil dia mulai membeberkan alasan kepergiannya yang mulanya juga dibubuhi candaan tapi menakutkan!!

Ternyata kepergian Marvin karena melarikan diri dari Bapaknya. Dan sebelumnya dia juga pernah cerita bahwasanya Bapaknya sangat keras! Bahkan kakak perempuan Marvin yang tertua telah hilang entah kemana. Kabarnya dia juga melarikan diri karena tak tahan aturan Bapaknya. Marvin juga sering mendapatkan perlakuan kasar dari Bapaknya tanpa alasan. Bahkan sebulan sebelum Marvin melarikan diri ke luar kota, dia sempat dikurung seminggu di dalam kamarnya. Alasannya tak begitu jelas. Yang pasti, dia waktu itu hanya pergi keluar membeli obat flu untuk ibunya yang sedang sakit. Itupun apotiknya hanya di seberang jalan raya depan rumahnya.

Entah kenapa, sehabis meminumkan ibunya obat tadi, Marvin langsung masuk kamar dan tak sadar pintu kamarnya telah dikunci Bapaknya dari luar. Seminggu penuh!! Sialnya jendela kamar Marvin kebetulan dipasang besi pengaman, jadi susah baginya untuk kabur.

Untuk makan, ibu Marvin selalu sembunyi memberinya makanan dan langsung dikunci lagi karena takut amarah Bapaknya meluap lagi dan akan tertuju pada ibunya.

Dan Marvin pun bisa saja langsung kabur hari itu juga meninggalkan rumah dengan bantuan ibunya. Tapi dia tak tega meninggalkan ibunya yang masih sakit yang pastinya akan jadi bualan Bapaknya nanti. Dan dia tak berani memberitahukanku tentang masalahnya itu, dengan alasan aku tak boleh ikut pusing memikirkannya.

Aku terdiam, berpikirlah otakku. Rasa bersalah, lega, kasihan, takut semua berjejer di otakku.

Setelah lama saling diam, aku baru ingat belum memberinya minuman.

“Ups…Sorry minumnya lupa!

“Alhamdulillah, kerongkongan yang dari tadi kering bakal terobati juga. Sahutnya datar.

“Hehe, ya maap! Lupa…

Aku segera berlari ke dapur sambil tertawa geli.

Hmm….Marvin…Marvin..

Dari dulu aku memang tak bisa marah lama-lama sama dia. Sekesal-kesalnya, sebenci-bencinya dulu, aku bisa saja dengan gampang lupakan semua. Yaa…memang aku bukan tipe orang pendendam. Cukup marah-marah sebentar, besoknya sudah bisa lupa asal jangan diungkit lagi.

Panasnya siang berganti sejuknya udara sore hari di halaman rumahku, tak terasa sudah cukup lama aku berbagi cerita dengan Marvin. Sampai akhirnya Marvin menutup pembicaraan dan pamit untuk pulang.

“Oya Ja, aku pulang dulu yah..

Udah sore, nggak enak sama mamanya Regi. Aku cuma numpang nginep aja seminggu ini. Minggu depan bakal ke Jogja lagi.

“Hah, seminggu? Bentar amat?

“Iya, kan aku sudah cerita tadi, aku sudah punya pekerjaan di Jogja.

“Heh, iya deh… Makasi kunjungannya ya… Terus makasi juga sudah ingat mampir ke sini.

“Ngomong apaan sih Ja? Biasa aja kali. Malah aku yang harus berterima kasih, kamu mau ngerti posisiku sebenarnya. Aku nyesel banget Ja, nggak jujur sama sama kamu dulu. Aku…..

“Ya sudah! Sudah! Buruan pulang gih!Bosan nih liat muka memelasmu itu, jelek!

“Yee, ngusir…. Iya deh aku pulang….daah…

Perjumpaan pertama sejak 2 tahun ini membuatku gila. Kadang senyum sendiri, sewot sendiri dan tak jarang membodohi diri sendiri serta masih menyalahkan Marvin….Hah….!!

Malamnya dia kembali berkunjung tanpa sepengetahuanku sebelumnya. Aku yang berencana makan malam itu langsung membukakan pintu dan mendapati Marvin yang membawa sebungkus nasi goreng dan 2 gelas cappuccino hangat.

“Waduh…waduh… tahu banget dirimu kalo perutku lagi lapar, hehe..

“Iya donk…nih langsung dihajar aja, mumpung masih hangat.

Langsung saja aku santap nasgor (nasi goreng) bawaannya dan memaksanya untuk ikut makan. Yah, mana habis tiu nasgor sebungkus dimakan sendirian!

Kami melanjutkan obrolan tadi yang terpotong dengan suasana yang lebih santai dari tadi sore. Dan aku pun baru tahu kalau Marvin di Jogja tinggal bersama ibu dan adiknya. Setelah berhasil kabur dari Bapaknya dulu, Marvin mengajak ibunya untuk pindah dan tinggal sementara di rumah saudara Bapaknya dan baru cari rumah kontrakan. Dan aku pun baru tahu Bapaknya juga pindah ke kampung halamannya dan kabarnya telah menikah lagi.

Marvin mengaku sangat terpukul karena kejadian itu. Bahkan bertahun-tahun sebelumnya. Itu makanya dandanannya selalu urak-urakan.

Dan emang sejak aku mengenal Marvin tepatnya tiga setengah tahun lalu aku bertemu dengannya memang dengan kondisi seperti itu. Perokok, pemurung dan tak jarang kudapati tubuhnya memar. Bila ku tanya, “Ah, semalam berantem sama teman yang lagi mabok”. Aku percaya saja karena rata-rata temennya memang urak-urakan gaya bak preman.

Sepekan penuh aku bertemu tiap hari dengan Marvin, tak terkecuali saat aku berada di Padang, kuliah. Dia menginap di kosan Regi, temannya yang juga tempat menginapnya saat di kampung. Marvin mengantar dan menjemputku sepekan itu dan akhirnya dia harus kembali ke Jogja. Aku cuma mengantarnya sampai depan kelasku, karena siang itu aku memang sedang kuliah, ujian malah!

Obrolan terakhir kami agak berantakan, sama-sama gugup. Jujur, aku tak ingin Marvin pergi lagi. Takut ia tak kembali. Marvin berpamitan dengan wajah memelasnya yang berusaha disembunyikan tapi tetap saja terlihat jelas bagiku. Aku hanya tersenyum saja saat dia berpamitan.

Marvin berangkat. Dengan langkah gontai aku berjalan masuk kelas yang ternyata aku terlambat 10 menit. Untung benar-benar belum dimulai ujiannya. Pikiranku masih kacau. Konsentrasiku hilang, mengingat dan takut Marvin pergi tak kembali lagi seperti dulu.

Tiba-tiba….

Bip…Bip…Biiip!!

“Ja….

Sampai ketemu lagi yaa…

Kuliah yang benar. Biar cepat jadi Sarjana dan Merit, hehe

Biar aku punya ponakan kembar yang lucu…

Oyah, aku berangkat ya, jangan pake nangis, biasa ajai…

Kalau kangen kan bisa langsung telpon aja, hehe

Oke manis? Miss U ^_^

Sender : Marvin

Huh, dasar! Gilanya nggak ilang-ilang.

Aku pun membalas.

“Iya, iya….cerewet!

Ho ‘oh dah, kamu juga kerja yang bener.

Biar suksesnya cepat dan bisa buka cabang disini kek, apa kek.

Biar kalau kangen, aku nggak perlu buang pulsa buat nelpon kamu, hehe

Sampai ketemu juga ya ^_^

Aha, sms yang lumayan bikin aku semangat lagi hadapin ujian siang itu.

Nah, seminggu kemudian sejak Marvin kembali ke Jogja. Seperti biasa HPku berbunyi untuk yang kesekian kalinya, tentunya dari Marvin. Isi smsnya kali ini buat jenuhku hilang karena bosan di kampung saat liburan semester. Sebuah jawaban dari candaanku sebelumnya, yang ternyata digubris dengan serius oleh Marvin.

“Bulan depan peresmian kantor baruku di sana, tungguin yah..

Tahan dulu kangennya….. hehe

Sender : Marvin

Deg!!! Astaga aku ternganga.

The End

2009, morpha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s