Cukup, Antara Kau dan Aku

Kau bicara,perlahan dan beraturan. Semua kata-katamu seakan sudah ditata,mengalir deras dan mengobati dahaga. sesekali kau lempar senyum,kanan,kiri dan untuk dikejauhan. Kau puaskan rasa ingin tahu mereka.
Mereka memandangmu takjub. nyaris tak berkedip,tak rela untuk mengacuhkanmu sedetikpun. Kau bintang bagi mereka. Bintang pelengkap gulitanya malam. Sebegitu bermaknanya dirimu bagi mereka.
Lalu kau mohon diri. Berharap mereka tak lukiskan guratan kecewa. Kau yakinkan mereka,kau kondisikan emosinya,kau mainkan harap mereka agar rasa salahmu tak terkena. Tapi benar saja,mereka tersentak tak percaya,meronta tak terima. Kau sudahi permulaanmu. Kau hentikan pengawalanmu. Kau divonis bersalah. Bersalah karna kesukaanmu bertindak sendiri. Tak pedulikan mereka. Tak hiraukan dunia.
Kau bisa apa? Kau hanya rasa lelah. Sejenak berdiam dan melepas dahaga. Kau pintas melepas dahaga mereka,tapi pandirmu kau pakai untuk hausmu. Kau sepi walau banyak yang menemani. Kau hampa walau banyak yang mengisi. Kau sekarat.
Siapa yang tau?
Siapa yang mau tau?
Mereka pikir,kau yang bejatt
Kau pikir,kau memang bejatt
Berhenti saat mereka baru ingin memulai.
Berlari saat mereka baru ingin berdiri
Berdiam saat mereka ingin mendengarmu berteori.
Otakmu tak sehebat tubuhmu.
Jiwamu tak sekeras kepalamu.

Dengan rasa was was kau melangkah pergi. Tinggalkan berjuta tanya mereka. Mengacuhkan bacaan baru dari mereka.
Kau mohon diri,lagi. Pamit yang terakhir kali. Lalu kau berkata seakan berpesan untuk anakmu,pertama dan terakhir.

”Pahamilah sebaik-baiknya jalan otakmu. Akan ada fatamorgana kematian dalam kehidupan, kehidupan dalam kematian”

Gemetar mengiringi kata-katamu itu. Tak seperti biasanya yang lantang,tenang dan beraturan. Sepertinya kali ini kau tak begitu yakin dengan kalimat itu. Tapi kau usahakan agar mereka tetap mendengar saat kekecewaan menggerogoti.

Dan kau tersenyum lega, kau bisa istirahat, akhirnya. Kau tulikan tekingamu dari teriakan mereka yang semena-mena mengaturmu sambir meringiss.

”ibuuuuuu,jangan mati dulu….!!”
*.*

#air murni tersendat mengalir, percaya atau tidak, itu sangat perlu. Jadi, usahakan air itu tetap murni#

::she dedicate her letter for her mother::

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s