Tanya Bertanya-tanya (part2)

Tiba-tiba terdengar suara memekakkan telinga dari
seberang sana.
Dan…. Tut tut tut tut… Terputus…
Setengah jam sebelumnya aku berhasil, tapi
selanjutnya keningku berkerut dan ada tambahan
pekerjaan di otakku. Aku teringat si penelepon paksa tadi. Yang memaksaku membenarkan panggilannya,
Kevin. Siapa Kevin?? Siapa yang meneleponku tadi??
“Ahh, sudahlah. Toh beneran salah sambung dianya.
Ucapku sambil terus menggenggam ponselku.
Alat rabaku tak sehebat otakku, dimana setelah
setengah jam berlalu aku mencoba membolak-balikan ponselku dan memukul-mukulkannya ke telapak
tangan tapi tak ada hasil. Dan memang secara teori tak
akan pernah berhasil teknik seperti itu. Sedang otakku
sibuk menganalisa, kesialan apa lagi selanjutnya untuk
hari ini.
Pesan masuk di ponselku sepertinya benar-benar harus sabar bertumpuk. Dan akhirnya aku menyerah, tak apa
lah, mungkin screen reader ponselku memang layak
untuk cuti. Mengingat akhir-akhir ini dia sibuk karenaku.
Menemani kesibukanku menyombongkan diri atas
penolakan kata-kata, “mata jendela dunia”.
”Tuk tuk prang….!!”. ”Meooong….”
”Aduuuuh….!!”
Ada keributan di atas, pikirku. Bergegas aku meraba
dinding dan mulai menaiki beberapa anak tangga
setengah perjalanan ke lantai dua rumah ini. Sepertinya
jawaban dari pertanyaan di pikiranku tadi terjawab seketika. Aku sudah berada di dapur saat aku
menjumpai makanan berkuah yang baru disalinkan ke
mangkuk beberapa menit yang lalu oleh adikku
berserakkan ke lantai, bercampur pecahan mangkuk
yang terasa masih panas dan itu ku tahu dari mulut adik
perempuanku yang terdengar kesal. ”Aduh Aniiis…! ucapnya semi teriak.
“Makanya jangan rakus, tuh lihat, tumpah kan
jadinya”.
Aku membantu menegur si Manis kucing kesayanganku
sambil mendengar adikku mengumpulkan tumpahan
gulai pucuak ubi (daun singkong) bercampur ikan Teri serta beberapa pecahan kaca dari lantai. Itulah sayur
yang dibuat oleh adikku diniatkan untuk melengkapi
menu berbuka puasa kami hari ini.
Hari ini adalah hari ke tujuh di bulan Ramadhan. Dimana
tahun ke dua puluh delapan aku menghirup nafas ke
dunia yang penuh warna dan tahun ke tiga duniaku meredup, gelap. Ini juga tahun ke lima aku ditinggalkan
ibu kandungku. Dan tahun ke tiga aku ditinggal Ayah.
Aku hidup berdua dengan saudariku di sebuah rumah
permanen yang mempunyai dua lantai, tepatnya dua
setengah lantai. Dipertengahan antara lantai satu dan
dua ada sebuah ruang yang terletak disebelah belakang rumah dimana disanalah si Manis bikin onar
yang aku sebut dengan dapur. Tepatnya, dapur terletak
”menggantung” antara bagian belakang lantai satu
dan dua.
Ayah sengaja meletakkan dapur disana, agar kami bisa
melihat lantai sebagian dari lantai satu dan sebagian lantai dua dalam satu posisi berdiri. Tapi ternyata aku
tak bisa berlama-lama menikmati pemandangan itu.
Cukup dua tahun setelah rumah ini selesai direnovasi
dan indra penglihatanku tak berfungsi. Rumahku tak
besar, tak juga kecil. Tak kecil karena aku tinggal
berdua disini. Lumayan kecil bila kami masih lengkap dan ketika aku berkeluarga nanti mempunyai empat
orang anak.
”Ups, sepertinya tidak, aku tak akan berkeluarga
sebelum aku jatuh cinta bukan? Dan sepertinya tidak
akan pernah ketika kalian mengingat perkataanku
sebelumnya. Aku tak akan jatuh cinta. Selamanya. Waktu menunjukkan jam setengah enam sore saat
adikku selesai membereskan dapur setelah insiden
kreasi si Manis. Kami siap menantikan bedug tanda ijin
untuk berbuka puasa. Menu sederhana dan cukup untuk
kami sampai nanti untuk sahur esok pagi. Ahh,
bagaimana aku bisa hidup bila tanpa saudariku yang satu itu.
Untuk biaya hidupku sehari-hari aku sudah cukup
bersyukur mendapat penghasilan sebagai pemilik
rumah makan Padang yang baru berkembang. Sebagai
sarjana ilmu komunikasi, aku terlihat sangat banting stir
jadi toke kuliner (juragan) tapi itulah pekerjaan sampingan yang bisa aku kembangkan di duniaku yang
super gelap seperti ini. Dan sudah pasti saudariku juga
ikut andil dipekerjaan ini.
Pekerjaan tetapku, aku bekerja sebagai penulis tetap
pada sebuah majalah lokal dan berada pada kolom
’remaja’. Tulisanku Cuma sekedar fiksi remaja, puisi dan cerpen. Dengan bantuan seseorang teman yang
mau menjadi penolongku layaknya asistenku, yang
menuliskan apa yang aku katakan, dan membacakan
apa yang aku harus tahu dari media cetak. Ya, persis
seperti screen readerku yang sedang cuti itu. Penolong
sejati yang juga butuh cuti. Kudapati si Manis sudah duduk manis di bawah kursi
tempat aku biasa duduk untuk menyantap makanan.
Dengan manja ia menggosok-gosokkan kepalanya di
kakiku saat aku baru mendarat di kursi makanku.
Setelah berdoa, aku dan adikku menyantap makanan
itu dengan penuh rasa syukur. Walau sayur yang tadinya berupa gulai pucuak ubi diganti adikku dengan
beberapa potong mentimun sebagai pelengkap menú
berbuka sore ini. Alhamdulillah.
Walau hidupku terlihat senang dan tentram,
sebenarnya jiwaku di dalam sangat rapuh. Aku sering
kecolongan kehilangan iman saat iri membelenggu di hati. Melihat semua orang bahagia dengan keluarganya.
Ada ayah, ibu kakak dan adik serta punya dunia yang
penuh warna. Aku seperti sudah tak tahu rasa syukur
lagi. Aku terpenjara sendiri dengan sifat jelekku itu.
Padahal aku punya saudari perempuan yang terakhir
kali kulihat sangat cantik sebelum aku keluar rumah dengan ayah tiga tahun lalu dan mengalami kecelakaan
serius itu.
Untuk menghindari keterpurukanku yang sangat dalam
atas kehilangan indra terpenting itu, adikku dan teman-
teman yang iba kepadaku menghadiahi sebuah
kesibukkan. Sebagai lanjutan dari potensi yang aku punya sejak SMP, menulis. Aku dikenalkan pada profesi
penulis di sebuah majalah lokal, sebagai wadah
pengungkap perasaanku.
Malam ini ponselku berdering lagi. Dan sama
lantangnya dengan sore tadi.
”Kriiiing…..” Ku coba mendengar dengan seksama screen readerku
membacakan siapa yang menelepon. Tapi yang ada
hanya suara kring yang sama, semakin ribut malah.
”Wahh, masih tak berfungsi”, pikirku.
Ku coba menjawab panggilan si pelenelepon itu.
”Ya Halo…?? sapaku. ”Keviiiiiiiin, kamu jahat…!!”. Suara yang sama tapi
tuduhan yang meningkat dan memburuk dari siang tadi.
”Oh. Maaf mba… saya bukan Kevin. Saya Marvin. Mba
salah orang…” ucapku menyamai kecepatannya
bicara tadi siang. Aku sedikit merasa menang dan agak
lega karena berhasil mendahuluinya bicara. Entah si penelpon ini tak dengar atau tak mengerti
bahasa indonesiaku atau apa. Dia malah menangis
seperti mau curhat. Dan bersikukuh kalau aku Kevin
yang sedang jahat kepadanya.
”Kevin, dengarkan aku. Aku………..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s