Jengkel Vs Sabar

Perasaan jengkel yang timbul saat sebuah harga diri tak dinilai memang wajar. Bahkan sangat mungkin bisa menimbulkan perasaan lainnya. Seperti marah, sedih dan yang terparah adalah dendam. Saat perasaan jengkel itu timbul, otak akan bekerja cepat sehingga bila tak bisa mengendalikan kecepatan otak untuk mengolah kembali perasaan sakit yang terasa di hati, jengkel tadi akan berubah menjadi sebuah perasaan tidak terima lalu menciptakan suatu perilaku. Bisa saja membanting sesuatu, menangis, menggumam dan tak jarang langsung membalas dengan kata-kata. Yang harus dihindari adalah bila perilaku yang diakibatkan oleh jengkel tidak tersalurkan dengan benar atau belum merasa puas, perasaan ingin terus membalas dikesempatan lain akan timbul. Bila sudah begitu, seorang yang terdidik sekalipun takkan mampu menahan perasaan tidak senang berlama-lama, dia akan mencari cara untuk membalas sakit hati dengan cara yang dia fikir sepadan dengan apa yang ia terima bila nanti ada kesempatan.

Semua orang pasti pernah merasa jengkel karena tidak dihargai, baik usaha, latar belakang keluarga dan profesi. Marah-marah, mengangis dan menggumam itu baik untuk orang yang sedang jengkel. Hal itu sebagai efek spontan bagi seorang yang merdeka maupun yang tidak.

Maksudnya disini, tidak merdeka itu saya sebut sebagai seorang yang menaruh hidup atau bergantung pada yang membuat jengkel atau seorang bawahan atau anak buah (maaf). Biasanya mereka yang tidak berani menentang langsung akan menangis atau hanya menggumam saja sebagai tanda tidak senang. Lalu yang merdeka itu adalah yang berhubungan atau tak berhubungan erat dengan si pembuat jengkel, bisa saja keluarga, masih famili, dan orang tak dikenal. Dia akan langsung marah-marah, melawan dengan kata-kata atau melempar sesuatu atau bahkan terjadi kontak fisik. Bila tidak ada perilaku spontan dan hanya diam menerima, ada dua hal yang bisa ditebak didalam hatinya.

Pertama mencoba sabar karena menyadari posisi, kedua sabar karena ingin mencari kesempatan lain untuk membalas rasa sakitnya. Tidak ada orang yang benar-benar bisa menghilangkan rasa jengkel dalam hatinya. Yang bisa diusahakan hanya bersabar dan berserah diri pada Tuhan serta berfikir positif. Marah dengan cara yang positif, banting cucian ke bak rendaman, banting sampah tepat pada tempatnya. Positif bukan? (mulai melenceng).

Yang terbagus menurut saya adalah menagis, dengan menangis semua emosi baik itu jengkel tadi, marah, sedih akan terlepas dan takkan membuat kepala terlalu bekerja keras karena perasaan tidak menentu. Setelah menangis, kita akan menyadari beberapa hal yang mungkin akan terjadi bila kita berperilaku tak baik. Mungkin saja bila kita langsung marah saat kata-kata menjengkelkan melayang pas di jidat kita, pekerjaan yang sangat kita butuhkan itu akan melayang juga, profesi yang lama kita lakoni akan tercoreng dan tambah tak berharga tampaknya. Hal seperti ini tentunya menambah deretan pekerjaan otak kita setelah jengkel mengendap. Tak terbayang apa yang bisa kita lakukan bila berada pada posisi kacau seperti itu… (wew)
05 08 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s