Dongeng Pengantar tidur (Untuk Anak)

Malam ini, saatnya ibu membacakan dongeng malam untuk Kaka. Ibu menemukan bacaan tepat untuk anak semata wayangnya. Saat selesai berdoa dan Kaka siap mendengar, ibu lalu mulai bercerita.

Hari itu adalah hari yang menakutkan bagiku, kotaku diguncang gempa. Gempa terbesar yang pernah aku rasakan selama hidupku. Semua orang panik dan keluar rumah seketika, karena takut rumahnya rubuh dan menimpa orang yang berada di dalamnya.

Hari itu sore yang cerah, aku baru pulang dari surau untuk mengaji. Saat itu aku sedang menggoda adikku yang sedang disuapi makan oleh ibu di teras rumah. Saat rumahku bergerak pelan, aku dan ibu sontak terkaget dan beristigfar. Lalu gerakan itu makin kencang sehingga aku tak bisa berdiri karena guncangannya yang hebat. Dengan cepat ibu menggendong adikku dan menarikku ke luar halaman untuk berlindung dari rumah yang perlahan retak dan seperti mau roboh. Aku mendengar keributan yang hebat dari dalam rumah, aku tak tahu pasti apa yang terjadi di dalam. Aku hanya terbengong karena kaget dan menyaksikan tetangga tetanggaku yang berteriak kaget dan sebahagian langsung berlari. Ternyata mereka meneriakan stunami yang mungkin akan datang. Rumahku memang dekat dengan laut, dari surauku saja aku bisa memandang matahari terbenam disore hari.

Mendengar teriakan akan datangnya stunami dari orang-orang, ibu tambah panik dan langsung menarik tanganku untuk ikut berlari menjauhi pantai yang sangat dekat dengan komplek rumahku. Aku berlari mengikuti ibuku yang tampak ketakutan sambil menggendong adikku. Bagaimana tidak, sejauh kami berlari menelusuri jalanan yang ramai dipenuhi orang-orang yang panik dan tak sedikit yang menangis, kami melihat banyak rumah-rumah yang rusak, serta lampu jalanan pun banyak yang rubuh.

Aku, ibu dan adikku serta orang-orang yang lainnya seperti anak ayam kehilangan induk. Menangis, berlari dan berteriak. Kami tak lupa berdoa pada Tuhan.

Sore itu benar-benar menakutkan bagiku, listrik yang mati membuat senja yang ramai itu semakin mencekam, ponsel ibuku tertinggal di rumah jadi ibu tak bisa menghubungi ayah sehingga ibu semakin cemas dan mempererat genggaman tangannya padaku.

Aku sangat takut dan tambah merinding saat adikku menangis karena risih dan takut melihat orang yang ramai serta berteriak ketakutan dan berdesak-desakan.

Langit senja itu tiba-tiba tambah gelap, mendung. Tak terasa kami sampai juga di kantor ayah setelah cukup jauh berjalan. Tiba di sana, yang terlihat hanya kerusakan cukup parah dengan pintu masuk utama yang tak terpasang utuh lagi.

Ibu bergegas memasuki kantor dan menyuruhku untuk tinggal di luar. Takut akan rubuh bila ada gempa susulan. Ibu kembali keluar dengan wajah tambah pucat karena sebegitu paniknya, ayah tidak ada di dalam.

Mendung tadi berubah guyuran hujan yang cukup lebat, cukup menambah kegusaran hati orang-orang yang kehilangan arah tujuan, termasuk kami. Untuk itu ibu memutuskan untuk bertahan di depan kantor ayah untuk berteduh dan memikirkan akan kemana selanjutnya. Ternyata kami tidak sendirian, ada beberapa remaja lain yang ikut berteduh. Tampaknya seumuran kakakku, mungkin itu adalah mahasiswa perguruan tinggi dekat rumahku dan juga dekat laut. Pasti mereka juga panik saat gempa tadi terjadi. Ibupun mengkhawatirkan semuanya, ayah, kakak, aku dan adikku. Ibu tampak lelah dan langsung duduk mendekatiku yang dari tadi menunggu di luar.

“Lalu Apa yang terjadi Ibu? Apa mereka bias pulang? Kaka menyela tanda tak sabar ingin mendengar kelanjutannya. Lalu ibu melanjutkan.

Setelah sekian lama kami bertahan di kantor ayah yang kosong dan rusak itu, aku merasa lapar dan kedinginan. Ibu langsung mendekapku dan adikku yang dari tadi dipangkuan ibu. Ibu menyuruhku berdoa agar tidak terlalu takut. Masalah laparku, aku tak berani bilang pada ibu. Aku tak ingin menambah panik ibu dengan merengek minta makan pada ibu. Seperti yang dilakukan adikku yang masih berumur 1 tahunan. Dia menangis, entah karena lapar atau takut. Suasana disana juga mencekam, listrik di kotaku mati hujan makin deras, membuatku jadi merinding.

Tak lama kemudian aku bak melihat mentari yang hangat di malam hari. Sebuah mobil memasuki halaman kantor ayahku dan keluarlah dua orang sangat kami banggakan kedatangannya. Dengan wajah berbinar ibu menyambut kedatangan ayah dan kakakku.

Ternyata ketika gempa terjadi ayah langsung melaju ke rumah untuk menjemput ibu dan adikku. Tapi saat itu kami sudah berlarian menyelamatkan diri. Lalu ayah langsung menjemput kakakku di kampusnya karena ayah tahu kakak tak akan berlarian jauh dari kampusnya karena kampus kakakku agak jauh dari lautan.

Ternyata benar, kakak masih berada di kampus bersama temannya dan orang-orang yang sepertinya menjadikan kampus itu tempat mengungsi yang aman untuk sementara dari ancaman tsunami yang paling ditakutkan itu.

Ayah cemas karena aku, ibu dan adikku belum ada kabar. Lalu ayah teringat akan kemungkinan besar kami lari ke kantor ayah. Karena biasanya apapun yang terjadi ibu pasti menghampiri ayah di kantornya. Setelah berpelukan karena bahagia dan lega mengetahui semua anggota keluarga selamat, ayah mengajak kami pulang. Lalu kami sekeluarga segera meninggalkan kantor ayah yang gelap gulita itu dengan mobil ayah.

Hujan makin deras saat kami memandang luar jendela mobil. Menyaksikan dengan seksama suasana yang kami temui di setiap pinggir jalan raya. Kebanyakan bangunan dan rumah-rumah warga hancur dan retak. Kotaku hancur seketika bahkan Taman Kanak-kanak tempat ibu mengajar ikut roboh.

Sungguh pemandangan yang menakutkan. Ayah dan ibu beristigfar pelan diikuti kakak dan aku.

“ya Allah…!!”

“innalillahi wainnailaihi rojiun…”

Sesampai di rumah, kami di sambut oleh kegelapan. Gempa terkuat yang pernah aku rasakan ini berhasil membuat rumahku super berantakan. Banyak barang-barang yang berjatuhan. Ayah dan kakakku mencoba melangkah ke dalam rumah dan berhati-hati karena mungkin ada pecahan kaca yang tak terlihat. Aku, ibu dan adikku menunggu diluar sambil memandang sekeliling dimana para tetangga yang mulai kembali dari pelarian tadi tapi penuh was-was dan panik. Ayah dan kakak kembali keluar rumah dengan membawa senter, lampu otomatis dan tikar. Kami membentangkan tikar di teras kami yang cukup luas karena bila di halaman hari masih hujan. Tapi ayah juga mengingatkan untuk berhati-hati dan waspada bila nanti akan ada gempa susulan.

Malam itu ditemani hujan deras, kami beristirahat di teras rumah dengan keadaan masih panik dan deg-degan. Lalu ayah kembali ke dalam rumah untuk mengambil persediaan makanan yang masih ada. Akhirnya aku yang tadi menahan lapar, makan dengan lahap meski kedinginan diudara malam.

“Alhamdulillah…” ujarku pelan.

“Alhamdulillah…” Ujar Ibu dan Kaka Serentak. Ibu lalu menyuruh Kaka tidur dan memberi sdikit nasehat agar dalam suasana apapun kita harus mengingat Tuhan.

Dalam hati Kaka berfikir ingin berjumpa dengan sobat dongengnya itu, agar bisa membantu. Semoga saja…..

Advertisements

One thought on “Dongeng Pengantar tidur (Untuk Anak)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s