Adik Baru (Cerpen Untuk Anak)

Aku senang sekali punya adik baru, sekarang umurnya sudah 2 tahun dan baru pandai berjalan. Lucu sekali dia, giginya yang baru empat buah dan kecil-kecil selalu diperlihatkannya saat tertawa dan menangis. Aku bangga sekali sama adikku. Dia membuat seisi rumah gembira dan tertawa karena tingkahnya yang lucu dan tampang yang menggemaskan. Nama adikku cantik seperti wajahnya, Mutiara. Tapi akmi memanggilnya dengan Mutia saja.
Awalnya aku benci sekali pada Mutia, dia membuat ayah dan ibu melupakan aku. Sedikit-sedikit adik bayi, apa-apa adik bayi. Ayah tak sayang lagi padaku, pikirku. Aku selalu mengeluh dan marah bila ibu dan ayah bermain dengan adik. Ibu tampak sedih melihatku tak pernah menciuminya. Tapi ibu tidak marah dan tetap mengajakku bermain dengannya walau aku terlihat enggan.
Banyak teman-teman ibu dan ayah datang ke rumah. Mereka sengaja datang hanya untuk melihat dan menggendong Mutia. Mereka juga memberi adikku boneka baru, baju dan lainnya yang membuatku semakin iri pada adikku.
Disekolah pun teman-temanku selalu bertanya tentang Mutia, mereka ingin sekali bertemu dengannya dan minta ijin padaku untuk menciumnya nanti bila mereka mengunjungi rumahku kapan-kapan. Aku kesal sekali, apa hebatnya adikku itu? Dia hanya pengacau dikeluargaku, pikirku. Dia pandai membuat ayah dan ibu tak sayang lagi padaku sampai-sampai temanku pun ikut mengidolakan dia. Mereka pikir adikku lucu lah, cantiklah dan banyak pujian lainnya. Waktu itu umur adikku sudah dua bulan dan aku masih kurang senang padanya karena iri.
Tiba-tiba disekolah, ibu guru mengabarkan bahwa salah satu temanku mengalami kemalangan. Adik bayi yang baru lahir semalam meninggal dunia. Regi nama temanku itu. Dia tampak sedih sekali saat kami melayat kerumahnya sepulang sekolah. Apalagi ibu Regi, tampak masih lemah usai melahirkan semalam dan wajahnya seperti belum rela ditinggal mati oleh anak keduanya meski ayahnya dan pelayat yang lain berusaha menenangkan hati ibunya.

Sebelumnya Regi senang sekali bakal dapat adik baru. Ia selalu membanggakan diri dan selalu bercerita apa yang akan dilakukannya bila adiknya sudah lahir. Tapi aku yang lebih dulu mendapat adik tak terlalu bangga mendapatkannya, malah aku tak menginginkannya.
Aku sangat tahu Regi pasti sangat sedih dan terpukul karena gagal punya adik. Sedihnya terbawa ke sekolah. Dia terlihat murung dan sering melamun. Kami hanya bisa menghiburnya dan mengajaknya bermain bersama.
Saat kami bermain bersama, Regi berkata sesuatu yang membuatku tersentak kaget dan menyesali apa yang selama ini aku pikirkan dan aku perbuat. Saat itu Regi berkata, “Kamu beruntung ya Miko. Kamu masih punya adik. Kamu pasti senang bisa main sama Mutia. Sedangkan aku bisa tak punya adik bayi lagi seperti kamu. Tapi boleh kan aku kapan-kapan main dengan adikmu? Boleh ya…” pinta Regi. Aku terdiam dan malu sendiri mendengarnya. Dengan terbata aku menjawab boleh pada Regi.
Aku baru sadar betapa beruntungnya diriku punya adik. Sedangkan Regi yang sangat mendambakan seorang adik bayi ternyata belum punya kesempatan untuk memilikinya.
Ternyata aku yang jahat pada adikku selama ini. Aku tidak mensyukuri pemberian Tuhan. Aku yang diberi kesempatan merasakan jadi seorang kakak malah aku sia-siakan. Aku baru sadar dan mengerti bahwa ayah dan ibu bukannya tak sayang lagi padaku. Tapi memang adik bayi masih butuh bantuan untuk mengurus dirinya. Sedangkan aku sudah kelas 3 SD, tentu sudah bisa mengurus diri sendiri tanpa bantuan ibu lagi.
Sepulang sekolah usai Regi berkata seperti itu, aku langsung menghampiri Mutia yang sedang tidur di ayunannya. Aku menatapnya dengan bangga. Aku baru sadar hidung ku dengan hidung adikku sama. Lucu sekali melihatnya tidur waktu itu.
Aku bangga sekali jadi seorang kakak bagi Mutia sehingga aku selalu bertanya tentangnya sepulang sekolah pada ibu. Lalu besoknya kuceritakan apa saja kepandaian adikku dan apa saja yang aku lakukan dengannya pada teman-temanku. Mereka ku ajak mampir ke rumahku usai sekolah, termasuk Regi. Dia senang sekali menggoda adikku dan tertawa bersama.
Hingga kini, saat adikku baru pandai berjalan aku selalu mengajaknya jalan-jalan di sekitar komplek perumahan kami. Aku mendorongnya pakai kereta dan selalu bercerita padanya meski aku tahu dia belum mengerti banyak tentang ceritaku. Tapi yang lucunya, seolah mengerti ceritaku yang kupikir tidak lucu, adikku malah tertawa lebar dan memamerkan giginya yang kecil-kecil itu padaku. Aku geli melihatnya seperti itu. Aku tertawa juga melihatnya. Ah, betapa senangnya punya adik baru, pikirku.

Advertisements

One thought on “Adik Baru (Cerpen Untuk Anak)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s