Catatanku Memang Belum Utuh

Lebih dari lima belas menit aku buka catatan ini. Berniat menambah untaian kata pencermin jiwa. Apadaya,otakku tlah terbiasa bertingkah normal,tak bisa lagi terlalu disuruh bekerja. Walau hanya pekerjaan kecil tapi cukup lama telah buat dia gerah. Mematikan urat syaraf terpenting yang selama ini mendukung sikapku pada dunia. Emosiku,gerak-gerikku dan pandanganku.
Berharap masih punya ide cukup untuk bermain kata2 seperti dulu. Aku paksakan mataku memandang,aku paksakan tanganku bergerak dan aku paksakan emosiku meledak!
Yang kudapat,langkah penaku tak jelas. Niatku hanya untuk pengobat rindu berkata,karna lama sudah aku berdiam.

Ah,koneksi jari dan otakku kembali terputus! Membuat tulisanku menjadi nanggung. Diteruskan,takkan sama lagi maknanya. Dihentikan takkan tergambar endingnya.
Lalu aku harus bagaimana?
Bardiam lagi? Atau mempekerjakan secara paksa otakku yg sombong ini?

Lima belas menit lagi waktu terbuang percuma.menunggu lanjutan perjalanan catatan kecilku yg tak beralur jelas.
Pada akhirnya,aku sudah kehabisan akal. Sungguh,tak ada satupun ide terbesit di kepalaku,yg walaupun hanya sekedar numpang lewat di pandanganku ini.

Emosiku tak jua meledak! Sedihku tak ada,marahku tak sua,senang pun tak jumpa.
Gerak-gerikku membeku,tersegel keharusan berdiam di tempat.
Pandanganku pun mulai memudar,tak tampak lagi alur cerita yg harus kuselesaikan sesuai niatku. Tak terlihat lagi catatan sebelum ini dan sebelum nanti.
Urat syaraf terpenting di otakku benar2 terputus! Dibilang lemah,otakku masih bisa kugunakan untuk berfikir kapan aku harus tidur dan bermimpi. Dibilang normal,otakku tak mau lagi diajak bekerjasama dengan hatiku. Apa yg dirasa hariku,otakku takkan mau bekerja lembur untuknya dalam memberi respon. Jadi hatiku hanya bisa memendam perasaannya saja entah sampai kapan. Dibilang over,otakku mmalah tak mau bekerja untuk apa yg memang jadi kewajibannya.
lalu apa lagi yg bisa mendukung sikapku pada dunia nanti?
Semua sudah bergerak mundur karna merasa sudah tua untuk bekerja.

Di balik itu,catatan kecilku tak jua usai. Hanya memampang alunan kata yg sempat tercipta tanpa makna. Tapi itu sudah cukup! Dan aku bersyukur. Catatan itu mungkin yg terakhir bagiku dan akan aku simpan dengan baik.
Bila umurku panjang,kelak akan coba kuberikan pada anak-anakku yang sudah bisa membaca. Berharap generasinya bisa pahami sebuah catatan yg belum selesai.
Tak seperti generasi ibunya. Catatan utuh saja banyak yang tak mengerti bahkan tak ada yang mau membaca dan mengingatnya. Apalagi yang tak utuh. Takkan ada yg mau memandang,meski judulnya saja.

Terima kasih,lima belas menit sudah catatan tak utuhku kubaca lagi dan kusimpan sesuai janjiku. Judulnya sengaja kubuat tak menarik,agar tak ada yg mencurinya sebelum sampai ketangan anak-anakku.

Ah,terima kasih yang telah mengasihi!!

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s